Berita & Agenda ›

INOVASI KABINET ARABIKA
Kamis, 23 Agustus 2018 09:18
Untuk kali kedua Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur berhasil masuk Top 99 pada ajang kompetisi inovasi pelayanan publik (SINOVIK) 2018 dengan judul KABINET ARABIKA  kepanjangan dari KolAborasi PemBINan Ekonomi Terpadu Kopi Arabika. Pada ajang sebelumnya Dinas Perkebunan dapat menembus Top 40 setelah melalui seleksi penilaian Top 99 pada ajang yang sama dengan judul PLANET KAKAO. Setelah KABINET ARABIKA lolos tahap Top 99, pada tanggal 17 Juli 2018, Bapak Dr. H. Soekarwo Gubernur Jatim yang akrap dengan sapaan Pakde Karwo, menyampaikan paparan inovasi KABINET ARABIKA didepan dewan yuri bertempat di Kantor KEMENPAN RB di Jakarta.
Dalam paparan beliau sampaikan di Jawa Timur terdapat potensi areal yang sesuai untuk dikembangkan kopi arabika seluas 30.000 ha, menyebar di kawasan Pegunungan Ijen-Raung; Argopuro; Bromo-Tengger-Semeru (BTS) dan Wilis, dengan excisting areal baru 16.900 ha, masih terdapat potensi yang cukup luas. Selanjutnya pakde karwo bertutur “Pada awalnya tahun 2010 kopi arabika sulit berkembang, karena berbagai permasalahan di petani, yakni belum adanya akses bibit unggul, harga biji kopi murah akibat mutu asalan, petani hanya menjual dalam bentuk biji kering dan belum adanya akses permodalan”. Maka atas arahan Bapak Gubernur Soekarwo yang menempatkan kopi arabika sebagai komoditi perkebunan unggulan Jawa Timur, dicanangkan inovasi KABINET ARABIKA. Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur selaku inovator dan koordinator berkolaborasi dengan stakeholder terkait, yakni Pemerintah Kabupaten sebagai institusi yang memiliki otoritas wilayah, PUSLITKOKA sebagai pendamping produksi on farm dan off farm, Perhutani dalam kerjasama pemanfataan lahan, Ekportir sebagai mitra pasar dan perbankan untuk mendukung akses permodalan.
Seiring berjalannya waktu, kini inovasi KABINET ARABIKA telah memberikan manfaat setelah areal kopi arabika rakyat berkembang menjadi 16.910 ha. Selanjutnya menurut Pakde Karwo “dari produksi kopi arabika sebesar 6.829 ton, jika dilakukan petik merah kuning hijau secara bersamaan kopi asalan didapatkan pendapatan bersih hanya Rp70 milyar, tetapi jika dilakukan sentuhan teknologi dengan petik merah, olah basah, sortasi akan dihasilkan produk biji kopi premium dan pendapatan meningkat Rp266 milyar. Jika dilanjutkan dengan pengolahan produk hilir menjadi kopi roasting atau powder, pendapatannya jauh lebih tinggi yaitu Rp650 milyar, sangat tinggi nilai tambahnya” tutur beliau.
Masih menurut Pakde Karwo, inovasi ini akan berkelanjutan melalui implementasi Program Hulu Hilir Agromaritim gagasan beliau, yakni program pengolahan hilir yang dilakukan di hulu, dengan mendapatkan dukungan permodalan dari Dana APBD yang disalurkan melalui Bank Jatim dan Bank UMKM Jatim dengan bunga murah 6 %/tahun. Dana APBD tidak hilang karena bukan hibah, tetapi akan kembali dan dapat digunakan untuk modal yang terus bergulir.
Dalam paparan tersebut, dihadirkan petani kopi dari Desa Kayumas Situbondo, Didik Suryadi yang kini menjadi barista nasional untuk memperagakan penyajian kopi yang terjaga kenikmatannya. Pada sesi ini pak Didik mendapat sambutan hangat dari segenap dewan yuri. “Aplaus untuk Pakde Karwo yang dapat merubah petani kopi menjadi barista yang kinclong” tuturnya.  
Ir. Karyadi, MM, Kepala Dinas Perkebunan Jawa Timur bertekat untuk terus melanjutkan dan mengembangkan program yang sangat bermanfaat bagi kesejahteraan petani dan mampu mengungkit perekonomian kawasan pegunungan ini ke depan. “Kita akan kawal terus program ini, dari Kayu Mas untuk direplikasi ke daerah lain yang memiliki kesuaian lahan, utamanya melalui program hulu hilir komoditi perkebunan”, jelasnya.
Berita Lain