Berita & Agenda ›

DARURAT BAKTERI PEMBULUH KAYU CENGKEH (BPKC) DI JAWA TIMUR
Senin, 11 Desember 2017 13:42
Cengkeh (Eugenia aromaticum) merupakan salah satu produk perkebunan utama di Jawa Timur selain kelapa, kakao, tebu, tembakau dan kopi. Cengkeh merupakan produk perkebunan yang mempunyai banyak manfaat. Dengan kandungan terbanyak eugenol, cengkeh banyak dimanfaatkan dalam industri farmasi, parfum, minyak atsiri dan bahkan bumbu untuk memasak. Eugenol dipakai untuk membuat vanilin sintetis. Eugenol digunakan sebagai antiseptik dan anestesi dalam pengobatan. Sedangkan cengkeh sendiri juga menjadi komponen utama dalam pembuatan rokok kretek. Namun saat ini produktivitas cengkeh Jawa Timur mengalami penurunan karena adanya serangan hama dan penyakit, diantara adalah Nothopeus sp, Xyleborus sp. Pseudomonas syzigii, Phylosticta syzigii dan masih banyak lagi.
Di Jawa Timur sendiri, sebagian besar tanaman cengkeh merupakan hasil perkebunan rakyat sebesar 39.484 Ha, mencapai 86% dari keseluruhan total areal yang diusahakan baik dari perkebunan rakyat, perkebunan negara dan perkebunan swasta. Pada umumnya petani cengkeh di Jawa Timur kurang memperhatikan aspek budidaya. Tanaman hanya dieksploitasi untuk dipetik bunganya. Bahkan, daun yang berguguran yang semestinya menjadi sumber bahan organik tanah diambil karena mempunyai nilai ekonomi. Tindakan preventif terhadap serangan hama dan penyakit sangat minim. Pemupukan juga sangat jarang dilakukan. Setahun sekali dipupuk dengan menggunakan pupuk kandang, itupun kalau petani ingat. Sehingga menjadi sangat wajar jika dengan kondisi tanaman yang kebanyakan berumur lebih dari 35 tahun sangat rentan terkena serangan hama dan penyakit.
Saat ini, penyakit yang banyak melanda areal pertanaman cengkeh di Jawa Timur adalah Bakteri Pembuluh Kayu Cengkeh. Mulai dari Pacitan, Ponorogo, Madiun, Trenggalek, Tulungagung, dan bahkan sudah menyebar sampai ke Jombang. Jika dilihat secara visual, tanaman yang terserang BPKC akan mengering, daun layu dan rontok. Dan jika dilihat dari kejauhan akan terlihat putih dan kelabu. Penyebab penyakit adalah Pseudomonas syzygii, merupakan bakteri gram negatif, aerob, berbentuk batang dengan ujung membulat. Bakteri ini berkembang dengan optimal pada suhu 28°C. Penyebaran penyakit ini melalui angin dan ditularkan oleh serangga Hindola striata dan melalui alat pertanian yang sebelumnya digunakan untuk memotong tanaman sakit.
Menurut Bennett et al. (1979) dalam Hartono, R. (2013) terdapat 2 tipe serangan yang paling sering terjadi di pertanaman cengkeh yaitu:
1.    Mati cepat atau mati layu (wilt die back )
Daun daun gugur mendadak, ranting-ranting pada cabang dekat pucuk atau pada pucuk mati. Daun gugur dari atas ke bawah, terjadi selama beberapa minggu atau bulan. Kadang-kadang cabang seluruh tanaman muda layu secara mendadak, sehingga daun yang kering dan berwarna cokelat tetap melekat pada pohon untuk beberapa waktu. Jika ranting tanaman dipotong kemudian dicelupkan ke dalam air akan muncul massa bakteri berbentuk seperti kabut. Seluruh tanaman mati dalam waktu 2 tahun sejak permulaan timbulnya gejala.
2.    Mati lambat atau mati karena menua (senescence die back ).
Gejala terjadi secara bertahap, seluruh daun menguning lalu gugur bagian demi bagian. Daun dewasa menjadi tua sebelum waktunya. Masa gugur daun dapat berganti dengan pulihnya pohon, mati ranting dan cabang terjadi diseluruh pohon. Tanaman mati 3-6 tahun sesudah menampakkan gejala. Batang dan akar pohon yang mati secara lambat ini tidak mengeluarkan lendir bakteri jika di lembabkan.

Saat ini penanganan yang dilakukan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur adalah dengan menyelenggarakan temu lapang pengendalian BPKC. Dalam kegiatan ini dilakukan penginfusan dengan oksitetrasiklin (OTC), penyemprotan insektisida terhadap serangga vektor dan eradikasi tanaman yang sudah terserang berat. Penginfusan dengan OTC dilakukan apabila tanaman masih agak sehat. Sedangkan insektisida yang digunakan untuk mengendalikan serangga vektor adalah yang berbahan aktif sihalotrin, monokrotofos, aldikarb, karbofuran dan asefat. Eradikasi dilakukan dengan memotong tanaman yang sudah terserang berat dan mengeluarkan dari lahan kemudian membakarnya agar tidak menjadi sumber inokulum selanjutnya.

Oleh : Hanik Sulistyawati, SP (POPT Pertama)
Bidang Perlindungan Perkebunan
Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur

Berita Lain