Berita & Agenda ›

Pengendalian Kwangwung: Agar Nyiur Tetap Melambai
Senin, 04 Desember 2017 07:16
Nyiur hijau..ditepi pantai..siar siur daunnya melambai..

     Tentunya masih terngiang ditelinga kita senandung lagu yang menggambarkan keindahan alam Indonesia dengan tanaman kelapa yang menghampar dimana-mana. Indonesia merupakan Negara penghasil kelapa terluas dunia pada urutan ke-2 menurut data rata-rata FAO 2004-2008 yang tersebar di Riau, Sulut, Jatim, Jateng, Jabar, Sulteng, Sulsel, Lampung, Jambi dan Maluku, tapi produksinya paling tinggi di dunia yaitu sebesar 18,16 juta ton (Sirait, 2016). Kelapa memegang peranan yang penting dalam masyarakat Indonesia mulai dari pemenuhan social budaya sampai dengan pemenuhan ekonomi. Semua bagian dari pohon kelapa tidak ada yang terbuang mulai dari akar sampai dengan daunnya. Tidaklah berlebihan apabila kelapa diberi julukan sebagai pohon kehidupan (tree of life). Daun muda dipergunakan sebagai pembungkus ketupat dan sebagai bahan baku obat tradisional, sedangkan daun tua dapat dianyam dan dipergunakan sebagia atap, kemudian lidinya sebagai bahan pembuat sapu lidi. Batang kelapa dapat digunakan sebagai bahan baku perabotan/ furniture atau bahan bangunan dan jembatan darurat. Akar kelapa dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan bir atau bahan baku pembuatan zat warna.
       Buah kelapa terdiri dari sabut, tempurung, daging buah dan air kelapa. Buah kelapa yang telah masak kira- kira 2 kg per butir. Buah kelapa dapat digunakan hamper pada seluruh bagiannya. Airnya untuk minuman segar atau dapat diproses lebih lanjut menjadi nata de coco, atau kecap. Sabut untuk bahan baku tali, anyaman keset, matras, jok kendaran. Dari sabut tersebut akan diperoleh serat matras 18% , serat berbulu 12% dan sekam/ dedak atau gabus 70%. Serat matras digunakan untuk bahan pengisi jok, penyaring dan matras. Serat berbulu digunakan untuk sikat pembersih, sapu dan keset sedang sekam/ gabus digunakan untuk media tanaman atau pupuk Kalium.
     Tempurungnya secara tradisional dibuat sebagai gayung air, mangkuk, atau diolah lebih lanjut nenjadi bahan baku obat nyamuk bakar, arang, briket arang, dan karbon aktif. Daging buahnya dapat langsung dikonsumsi atau sebagai bahan bumbu berbagai masakan atau diproses menjadi santan kelapa, kelapa parutan kering (desicated coconut) serta minyak goreng. Daging buah dapat pula diproses menjadi kopra. Kopra bila diproses lebih lanjut dapat menghasilkan minyak goreng, sabun, lilin, es krim atau diproses lebih lanjut sebagai bahan baku produk oleokimia seperti asam lemak (fatty acid) , fatty alcohol, dan gliserin. Hasil samping ampas kelapa atau bungkil kelapa merupakan salah satu bahan baku pakan ternak.
     Cairan nira kelapa dapat diproses menjadi gula kelapa. Ketandan buah yang baru tumbuh sampai posisi tegak diambil cairannya dan menghasilkan nira. Nira ini dapat diproduksi sebagai minuman dan gula kelapa. Setiap pohon kelapa terdapat 2 buah ketandan bunga, bisa diambil niranya sampai 35 hari dan selanjutnya akan muncul ketandan bunga baru lagi. (Anonim, 1990)
     Dengan melihat kegunaan yang sedemikian besar timbul pertanyaan akankah menghilang lambaian nyiur di Indonesia karena serangan hama yang begitu merusak?

Oryctes rhinoceros
Oryctes rhinoceros (kwangwung) adalah hama yang sangat merusak tanaman kelapa. Hama ini mempunyai gejala yang sangat khas yaitu adanya guntingan pada daun berbentuk huruf ”V”. Hama ini mempunyai 4 siklus hidup, yaitu telur (14 hari), larva (5-6 bulan), pupa (20 hari) dan imago (3 minggu). Dari keempat siklus, maka stadia imago adalah yang paling merusak. Imago dapat berpindah tempat hingga sejauh 9 km dan hidup selama 3 – 5 bulan. Serangan hama ini semakin diperparah dengan adanya serangan hama sekunder yaitu kumbang sagu (Ryncoporus ferrigenus). Imago O. Rhinoceros menyerang pucuk dan pangkal daun muda yang belum membuka, sehingga merusak jaringan aktif (meristem) untuk pertumbuhan kelapa.

Pengendalian
Pengendalian hama dapat dilakukan dengan cara :
1.   Memusnahkan sarang
O. rhinoceros meletakkan telurnya di tumpukan jerami, ampas tebu, kotoran ternak, sisa gergajian kayu, sampah rumah tangga, dan tunggul kelapa yang sudah lapuk. Bahan-bahan tanaman tersebut jika sudah mengalami dekomposisi/ pelapukan akan menjadi bahan organik yang cukup baik dan menjadi bahan pakan bagi perkembangan larva-larva hama Kwangwung. Dengan pola penyebaran imago yang begitu jauh, maka diperlukan pengendalian yang serentak bersama-sama. Pemusnahan sarang akan memutuskan siklus hidup kwangwung sehingga pada akhirnya dapat mengurangi populasi kwangwung di sarangnya. Kotoran ternak sebaiknya diolah menjadi pupuk atau ditutupi dengan tanaman penutup tanah atau mulsa plastik. Sampah harus dibersihkan dari kebun dan tunggul kelapa yang mati dan yang masih tegak berdiri dilakukan pemotongan.
2.    Pemasangan Lampu Perangkap (Light Trap)
Pada tempat-tempat/ daerah-daerah tertentu dapat dilakukan penangkapan imago hama Kwangwung dengan cara pemasangan lampu perangkap yang diletakkan di sekitar daerah-daerah sarang/ sentra serangan pada 1-2 malam setiap minggu pada bulan-bulan penerbangan imago sekitar bulan November-Desember-Januari (kondisi mendekati musim hujan)
3.    Pelepasan/ Aplikasi Musuh Alami
  • a.    Untuk Stadia Larva
Aplikasi musuh alaminya yaitu jamur Metharrizium anisopliae. Agar diperoleh hasil yang optimal perlu diperhatikan tentang cara/ teknik aplikasi, waktu, dosis, dan kualitas Agensia Pengendali Hayati (APH) tersebut.
  • b.    Untuk Stadia Imago
Pelepasan kumbang atau imago bervirus (Baculovirus oryctes) agar imago bervirus tersebut dapat menularkan virus pada pasangannya (perlu diperhatikan betul aspek-aspek teknis dan sifat virusnya)
4.    Pemasangan Perangkap feromon
Dapat dilakukan pada waktu-waktu populasi imago tinggi (diketahui dari pengamatan di lapang). Diletakkan pada sekitar sarang-sarang perkembangbiakan atau sentra serangan
5.    Penggunaan Pestisida Kimia
Pemasangan 5-10 gram  pestisida berbahan aktif karbofuran pada setiap pucuk kelapa yang dilakukan setiap bulan sekali atau infus batang atau akar dengan pestisida berbahan aktif Diazinon atau  Thiodikarb  yang bersifat sistemik dengan dosis 10-15 cc/ pohon

Oleh : Hanik Sulistyawati, SP (POPT Pertama)
Bidang Perlindungan Perkebunan
Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur

Berita Lain