Berita & Agenda ›

SI MUNGIL PERUSAK BUAH KOPI: PENGGEREK BUAH KOPI
Jumat, 14 Juni 2019 13:53

Pertumbuhan dan produksi tanaman kopi bergantung dan dipengaruhi oleh iklim, angin, dan tanah. Kebutuhan lainnya yang tidak dapat diabaikan adalah mencari bibit unggul yang produksinya tinggi dan tahan terhadap hama juga penyakit. Setelah persyaratan tersebut dapat dipenuhi hal yang juga penting adalah pemeliharaan seperti pemupukan, pemangkasan, pohon peneduh, dan pemberantasan hama penyakit.
Kopi termasuk kelompok tanaman semak belukar dengan genius Coffea. Kopi termasuk ke dalam family Rubiaceae, subfamily lxoroideae, dan suku Coffeae. Seorang bernama Linnaeus merupakan orang yang pertama mendeskripsikan spesies kopi ([I]Coffea arabica[/I]) pada tahun 1753. Menurut Bridson dan Vercourt pada tahun 1988,[B] kopi[/B] dibagi menjadi 2 genus, yakni Coffea dan Psilanthus. Genus Coffea terbagi menjadi 2 subgenus, yakni Coffe dan Baracoffea. Subgenus Coffea terdiri dari 88 spesies. Sementara itu, subgenus Baracoffea terdapat 7spesies. Berdasarkan geografik (tempat tumbuh) dan rekayasa genetik, kopi dapat dibedakan menjadi 5, kopi yang berasal dari Ethiopia, Madagascar, serta Benua Afrika bagian barat, tengah, dan timur (Andre Illy dan Rinantonio Viani, 2005). Tanaman [B]kopi[/B] terdiri dari: akar, batang dan percabangan (cabang primer dan cabang sekunder, cabang reproduksi, cabang balik dan cabang kipas), daun, bunga, dan buah (Nazir, 2016)

Siklus Hidup
Kumbang meletakan telur di dalam lubang gerek. Jumlah telur yang diletakkan betina selama hidupnya 31-50 butir. Telur menetas menjadi larva setelah 14 hari. Fase larva sekitar 15 hari, sedangkan masa prepupa dan pupa 7 hari. Menurut Barerra (2008) dalam Muliasari, A., dkk ( 2016) siklus hidup PBKo dipengaruhi oleh suhu. Semakin rendah suhu, siklus hidup akan semakin lama. Pada suhu 27ºC, siklus hidup kumbang yaitu 21 hari, suhu 22ºC yaitu 32 hari, dan suhu 19.2 ºC adalah 63 hari. Lama hidup imago betina lebih lama dari jantan. Kumbang betina dapat bertahan hidup selama 157 hari, sedangkan jantan hanya 20-87 hari (Hindayana dkk. 2002 dalam Muliasari, A., dkk, 2016).
Barerra (2008) dalam Muliasari, A., dkk, (2016) mengatakan bahwa populasi PBKo di dalam buah terserang dapat mencapai 25-30 individu dari berbagai fase perkembangan hidup. Jumlah betina lebih banyak dibandingkan jantan. Oleh karena itu selalu terjadi kopulasi antar keturunan. Betina yang telah berkopulasi akan keluar dari buah kopi untuk mencari buah baru sebagai tempat peletakan telur. Kumbang dapat bertahan hidup pada buah kopi kering yang telah menghitam yang masih menempel pada pohon maupun telah jatuh ke tanah. Kumbang jantan tetap hidup di dalam buah yang terserang.
   
Gejala Serangan
PBKo menyerang buah kopi pada saat buah bijinya mulai mengeras. Serangga betina meletakkan telurnya di dalam biji, selanjutnya berkembang biak sampai buah kopi dipanen atau gugur karena terlalu masak. Gejala serangan dapat dilihat dengan adanya bekas lubang gerekan pada diskus. Akibat gerekan tersebut biji kopi menjadi berlubang sehingga menurunkan mutu kopi. Kerusakan yang ditimbulkan dapat menurunkan produksi 10-40%. Serangan juga dapat terus berlangsung setelah panen sampai terbawa di penyimpanan (hama gudang), apabila kadar air biji kopi masih tinggi. (Dirjenbun, 2016)
Perkembangan dari telur menjadi imago berlangsung hanya di dalam biji keras yang sudah matang. Kumbang penggerek ini dapat mati secara prematur pada biji di dalam endosperma jika tidak tersedia substrat yang dibutuhkan. Kopi setelah pemetikan adalah tempat berkembang biak yang sangat baik untuk penggerek ini, dalam kopi tersebut dapat ditemukan sampai 75 ekor serangga perbiji. Kumbang ini diperkirakan dapat bertahan hidup selama kurang lebih satu tahun pada biji (Kalshoven, 1981)
Serangan H. hampei pada buah muda menyebabkan gugur buah. Serangan pada buah yang cukup tua menyebabkan biji kopi cacat berlubang-lubang dan bermutu rendah (PPKKI, 2006). H. hampei diketahui makan dan berkembang biak hanya di dalam buah kopi saja. Kumbang betina masuk ke dalam buah kopi dengan membuat lubang dari ujung buah dan berkembang biak dalam buah (Irulandi et al., 2007 dalam Firdaus, tth).
Pengendalian
Menurut Dirjenbun, 2016 cara pengendalian adalah sebagai berikut:
1  Mekanis
a.  Petik bubuk
  • Petik bubuk, yaitu memetik semua buah-buah yang berlubang dan dilakukan setidak-tidaknya setiap satu bulan sekali.
  • Seluruh buah (yang terserang) dikumpulkan kemudian dimusnahkan dengan cara dibenamkan, atau dibakar, sedangkan buah-buah yang masih bisa dimanfaatkan perlu direndam pada air panas selama 5 menit.
b.    Racutan/Rampasan
Merupakan tindakan memetik semua buah kopi yang berukuran Iebih dan 5 mm yang masih berada di pohon pada akhir panen. Tindakan ini bertujuan untuk memutus siklus hidup PBKo
 c.    Lelesan
Lelesan, yaitu mengambil semua buah-buah yang telah gugur dan dikumpulkan. Buah-buah yang telah terkumpul kemudian dimusnahkan seperti pada tindakan petik bubuk dan rampasan. Tindakan lelesan juga dapat dilakukan bersama-sama dengan petik bubuk dan rampasan. Lelesan bertujuan untuk memutus siklus hidup hama PBKo. Bila ke 3 cara tersebut dipadukan akan membantu menekan serangan hama PBKo. Pengaturan naungan mempengaruhi perkembangan hama PBKo, naungan yang terlalu lembab akan memperbesar intensitas serangan.
2  Biologis
a.  Penggunaan musuh alami terutama untuk kebun kopi yang mempunyai kriteria sebagai berikut :
  • Untuk intensitas serangan < 50%, dikendalikan menggunakan cendawan Beauveria bassiana.
  • Daerah yang mempunyai kelembaban cukup tinggi yaitu terutama diatas 80% dan temperatur ± 25 o
b.    Beberapa parasitoid yang dapat digunakan sebagai musuh alami PBKo, salah satunya adalah Cephalonomia stephanoderis.
Beberapa parasitoid yang dapat digunakan sebagai musuh alami PBKo, salah satunya adalah Cephalonomia stephanoderis.
c.     Penggunaan senyawa penarik (atraktan) seperti Hypotan/Brocap.
Atraktan merupakan senyawa penarik dengan menggunakan tambahan alat perangkap. Sebagian besar siklus hidup PBKo berada di dalam buah kopi, sehingga penggunaan bahan kimia untuk pengendalian hama ini tidak disarankan. Penggunaan bahan kimia dapat menimbulkan dampak negatif yang tidak diinginkan seperti terjadinya resurgensi dan resistensi hama sasaran maupun pencemaran Iingkungan hidup.
3  Kultur Teknis
Pencegahan dapat dilakukan dengan memperkuat kesehatan tanaman melalui pemupukan berimbang, pemangkasan dan pemberian naungan yang cukup serta pemanfaatan varietas kopi arabika yang tahan atau toleran misalnya; lini S795. USDA 762 dan Andungsari 2K.

DAFTAR PUSTAKA

CABI, 2018, Hypothenemus hampei (coffee berry borer), https://www.cabi.org/isc/datasheet/51521, diakses pada tanggal 14 Mei 2019
Dirjenbun, Penggerek Buah Kopi, http://sinta.ditjenbun.pertanian.go.id/penggerek-buah-kopi-pbko/, diakses pada tanggal 14 Mei 2019
Firdaus, tth, Mengenal Lebih Dekat Hama Penggerek Buah Kopi (PBKo) Hypothenemus hampei,  http://nad.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/info-teknologi/685-mengenal-lebih-dekat-hama-penggerek-buah-kopi-pbko-hypothenemus-hampei, diakses pada tanggal 14 Mei 2019
Nazir, N., 2016, Mengenal Tanaman Kopi, http://www.bbpp-lembang.info/index.php/arsip/artikel/artikel-pertanian/1034-mengenal-tanaman-kopi, diakses pada tanggal 14 Mei 2019
Muliasari, A., dkk, 2016, Pengendalian Hama Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampei Ferr) Pada Tanaman Kopi Arabika (Coffea arabica L) di Kebun Rante karua, tana Toraja, Sulawesi Selatan, https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=13&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjKrdWQkZriAhX57HMBHaErDRUQFjAMegQIABAC&url=http%3A%2F%2Feprints.ulm.ac.id%2F2776%2F1%2FSNLB-1602-150-155%2520Muliasari%2520et%2520al..pdf&usg=AOvVaw0C8qE2hy7rYyzUbcwSFGdJ, diakses pada tanggal 14 Mei 2019




Berita Lain