Berita & Agenda ›

Kopi Bondowoso Susul Sukses Kopi Luwak Menembus Pasar Internasional, Pembeli Eropa Suka karena Rasa Asam
Senin, 13 Juni 2011 10:57

Dalam jagat bisnis kopi, Indonesia dikenal sebagai produsen kopi yang unik dengan rasa special. Citra ini sudah diwakili kopi luwak yang saat ini ditahbiskan sebagai kopi termahal di dunia. Jejak sukses itu kini diikuti oleh Kopi Bondowoso yang kemarin pertama diekspor ke Eropa.

Aroma harum langsung menyebar saat kopi diseduh beramai-ramai di pelataran Pendapa Kabupaten Bondowoso kemarin. Berbeda dengan kopi pada umumnya, lidah langsung reaktif terhadap rasa kopi asli Bondowoso yang cenderung asam itu.

Menurut Dirut PT. Indocom Citra Persada Saimi Saleh, rasa asam itulah yang membuat kopi berjenis Arabika itu banyak diminati di Eropa. “Karena banyaknya permintaan, kami membuatnya memenuhi standar internasional dan kini sudah siap ekspor,” ujar Saimi Saleh di sela acara ekspor perdana Kopi Bondowoson ke Swiss sebanyak 6,26 ton kemarin (10/6).

Seperti cerita sukses Kopi Luwak, Kopi Bondowoso juga tidak serta merta dikenal keunggulannya. Apalagi hingga bisa menembus pasar paling prestise, Eropa. Hal ini bermula dari gagasan Bank Indonesia (BI) untuk membangun industry kopi dari hulu ke hilir. Deputi Gubernur BI Budi Rohadi mengatkan, pihaknya melihat potensi besar Kopi Bondowoso. Karena itu, BI Perwakilan Jember pun segera membuat grand desain ekspor kopi ini. “Kami sangat antusias melihat hasil yang memuaskan ini. Kami berharap kluster BI di berbagai daerah bisa berperan signifikan terhadap keberlangsungan ekspor sumber daya. Misalnya di Bojonegoro ada kluster sapi potong, lalu Semarang ada sapi perah. Itu harus dimaksimalkan,” ujar Budi.

Sejak 2010, BI pun secara agresif mengkaji pembentukan kluster kopi. Lalu, pada Maret 2011, BI mengadakan MoU dengan lima kelompok petani kopi, pusat penelitian (Puslit) kopi dan kakao Indonesia, Pemkab Bondowoso, Bank Jatim hingga PT. Indocom Citra Persada selaku eksporter. Indocom juga menyumbang dua juta benih kopi serta 22 unit alat yang nanti disalurkan ke lima unit pengolahan hasil (UPH). Lalu, Puslit Kopi dan Kakao pun mulai melakukan pembinaan pada kluster penanaman kopi dan mengerahkan 200 tenaga ahli. Sehari-hari tenaga ahli tersebut mengadakan pembinaan pada lima kelompok tani yang masing-masing terdiri dari 125 orang.

Kluster-kluster tersebut ada di Desa Sukorejo Kecamatan Sumberingin, Bondowoso. Yakni di Dukuh Sukorejo, Krajan, Pondok Jeruk, Kluncing dan Sukosawah. Petani di lima kluster di wilayah tersebut menanam dua jenis kopi, yakni 40 persen Kopi Robusta dan 60 persen Kopi Arabika. Jenis-jenis Arabika antara lain: Lini S, Usda, Kolumbia, Kartika, Kobra (Kolumbia Brasil) dan BP 416A. Contoh Kopi Robusta adalah BP 409, BP 42, BP 358, SA 288.

Manajer Industri Rintisan Puslit Kopi dan Kakao Indonesia Cahya Ismadi mengatakan, saat ini produktifitas kopi tidak sampai 50 persen per hektar dari total lahan seluas 7.526 hektar. Sekarang rata-rata produksi baru 750 kilogram per hektar. Padahal, kapasitas maksimal bisa mencapai dua ton. “Sehingga kami kian agresif menaikkan produktifitas kopi dalam luas lahan yang sama. Jika bisa mencapai ekspektasi, potensi yang didapat bisa mencapai dua kalimlipatnya,” tuturnya. Saat ini Puslit Kopi juga berupaya meningkatkan produktifitas di beberapa daerah seperti Bondowoso, Kayumas Situbondo, Flores dan Bali.

Kendala dasar yang selama ini membuat produktifitas kopi minim, menurutnya ada di segi pengolahan. Pada taraf pengelolaan tidak digunakan prinsip-prinsip agronomis. “Prinsip Agronomis justru yang paling vital. Misalnya edukasi mengenai memangkas daun. Terkadang daun dibiarkan banyak, pohon pun tidak berbuah maksimal,” ujarnya. Selain pemangkasan, pengendalian hama penyakit juga masih minim edukasi. “Jika masalah tersebut terselesaikan, target kami tahun depan bisa mencapai 1,5 juta ton per hektarnya,” paparnya.


Berita Lain