Berita & Agenda ›

Produksi Tembakau Virginia Melorot Tajam
Jumat, 17 Juni 2011 07:47

SURABAYA – Selama ini produsen rokok di Jatim telah mengimpor tembakau jenis Virginia kurang lebih 30 ribu ton per tahun. Ini disebabkan produksi tembakau jenis Virginia di Jatim terus mengalami penurunan, akibat anomali cuaca dan terdesaknya lahan untuk program ketahanan pangan.

 Hal tersebut diungkap Samsul Arifien, Kepala Dinas Perkebunan Jawa Timur. Menurutnya, tembakau jenis Virginia ini areal tanamnya terus berkurang, bahkan pabrik rokok masih mengimpor sekitar 30 ribu ton/tahun.

 Produksi tembakau Virginia ini pernah mencapai poin tertingginya di tahun 1992 dengan jumlah produksi 33.231 ton/tahun dengan luas areal tanam 40.335 hektare. Namun, di tahun 2010 luas areal tanam tinggal 13.364 hektare dengan produksi hanya mencapai 5.655 ton. Samsul menyebut, masalah iklim juga ikut mempengaruhi produksi tembakau. Padahal, sambung Samsul, tembakau Virginia ini yang di kehendaki oleh WHO (World Health Organization) karena kadar nikotinya dibawah 2%. “Memang isu kesehatan menjadi faktor yang sangat mempengaruhi perkembangan tembakau, tapi untuk jenis virginia sesuai dengan keinginan WHO karena kadarnya dibawah 2%,” terangnya.

 Amin Subarakah, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jatim, mengatakan hal senada terkait penurunan produksi tembakau Virginia ini. Menurutnya tembakau Virginia menurun selain karena anomali cuaca di tahun 2010 juga disebabkan karena minat pentani untuk menanam juga turun.

 Selama ini diakuinya pasokan tembakau Virginia di Jatim kepada para produsen rokok di penuhi oleh impor. Oleh sebab itu pihaknya dan juga Disbun di dorong untuk mengurangi impor tembakau jenis ini dengan bekerjasama meningkatkan produksi tembakau Virginia di Jatim.

 “Selama ini kebutuhan tembakau Virginia produsen rokok disuplay oleh impor. Oleh sebab itu kami didorong oleh pemerintah untuk menurunkan impor tembakau Virginia dengan meningkatkan produksinya,” tuturnya kepada Surabaya Post.

 Terkait isu kesehatan yang menjadi kendala utama perkembangan tembakau di Indonesia, Amin mengatakan ia sudah mengirimkan surat kepada Dinas Kesehatan, bahwa tidak ada penambahan areal untuk tembakau.

 “Saya sudah mengirim surat kepada Menteri Kesehatan bahwa tidak ada perluasan. Areal tetap 110 ribu hektare. Cuman varietasnya yang kita kembangkan lagi, untuk Virginia sendiri sekitar 15 ribu hektare saja,” tuturnya.


Berita Lain