Berita & Agenda ›

Permintaan Kopi Arabika Dunia Masih Tinggi
Jumat, 08 Juli 2011 07:20

Surabaya – Untuk produksi kopi arabika di Jatim masih sangat terbatas. Sementara pasar untuk distribusinya masih terbuka lebar dan bisa diekspor keluar negeri. Namun pengembangan kopi arabika yang cukup sulit, karena harus memenuhi persyaratan teknis yakni di atas lahan dengan ketinggian di atas 800 mdpl.

Kepala Dinas Perkebunan Jatim, Ir Moch. Samsul Arifien, MMA, kamis (23/6) mengatakan permintaan kopi arabika yang harganya tergolong lebih mahal daripada kopi robusta ini masih cukup tinggi, sehingga potensi pengembangannya kini tetap akan diupayakan. “Permintaan kopi arabika dunia masih tinggi, dan harganya jauh lebih bagus dari kopi robusta. Kalo robusta per kg Rp. 15.000, sedangkan arabika harganya bisa mencapai Rp. 20.000 sampai Rp. 25.000 per kg, nah ini yang perlu kita kembangkan, “tuturnya.

Adapun pengembangan kopi arabika di Jatim kini diupayakan di empat daerah, yakni Malang, Probolinggo, Situbondo dan Bondowoso yang pembiayaannya melalui APBD Jatim 2011. Di Malang, Disbun Jatim menargetkan penanaman bibit sebanyak 15 ribu batang di lahan seluas 15 hektar melalui program pengembangan sistem kebersamaan ekonomi (SKE) usaha perkebunan.

Pengembangan di Probolinggo dan Situbondo masing-masing akan mendapatkan bibit kopi arabika sebanyak 25 ribu untuk ditanam di 25 hektar lahan. Pemberian bantuan pengembangan itu diberikan melalui program kemitraan masyarakat petani dan pemilik modal serta pendampingan CSR. Sedangkan pengembangan di Bondowoso akan menjadi wilayah dengan potensi terluas, yakni di lahan 35 hektar yang ditanami 35 ribu bibit melalui program primatani (Pengembangan rintisan pemasyarakatan inovasi teknologi pertanian).

Untuk peningkatan permintaan kopi arabika ini membuat produsen kopi di dunia termasuk Indonesia tak mampu memenuhinya. Di Jatim produksi kopi arabika mengalami penurunan 60-70% dibanding tahun 2010, sebab utamanya cuaca.

Ketua umum Asosiasi Petani Kopi Indonesia (APKI) Jatim, Sumarhum menjelaskan, produksi kopi arabika Indonesia kini sudah menjadi terbesar ketiga di dunia, setelah Columbia salah satu negara produsen kopi arabika jatuh. Kini peringkat pertama dan kedua masih diduduki Brasil dan Vietnam. “Akibat curah hujan yang tinggi, produksi arabika menurun 60-70% dibanding tahun 2010. Untuk tahun ini mudah-mudahan bisa kembali normal jika tidak terjadi anomali cuaca lagi,”tuturnya. (REPORTASE)

Berita Lain