Image

Hama Pada Tanaman Kelapa

06 Nov 2020  |   Artikel   |  

1. Kumbang Badak (Oryctes rhinoceros L.)
a. Morfologi Kumbang Badak (Oryctes rhinoceros L.)
• Larva O. rhinoceros L. lebih suka seresah daun karena seresah daun memiliki kandungan gizi yang lebih banyak, yaitu C sebanyak 52,8%; P sebanyak 45,96% dan N sebanyak 1, 24%. Larva berwarna putih kekuningan, stadium larva 4 – 5 bulan.
• Kelembaban habitat yang optimum bagi stadium larva dan pupa adalah 85 – 95%, sedangkan untuk imago berkisar 80%.
• Jumlah hama tersebut akan meningkat pada saat musim penghujan. Hal ini dikarenakan kelembaban udara dan temperatur yang rendah sehingga larva ataupun pupa sangat cocok dengan kondisi lingkungan tersebut
• Kumbang betina mempunyai bulu – bulu halus pada perutnya. Sedangkan kumbang jantan tidak mempunyai bulu – bulu halus pada perutnya


b. Gejala Serangan
• Serangan kumbang terjadi pada malam hari dan dapat menurunkan produksi sampai 60%
• Kumbang ini menyerang pupus yang belum terbuka mulai dari pangkal pelepah


c. Pengendalian
• Pemotongan tunggul yang terkena serangan O. rhinoceros L
• Aplikasi Metarhizium untuk mengendalikan larva O. rhinoceros L. pada tempat tempat yang menjadi sarang dan tempat hidup
• Aplikasi Feromon untuk mengendalikan kumbang O. rhinoceros L. 


2. Kumbang Sagu (Rhynchoporus ferrugeneneus)
a. Morfologi Kumbang Sagu (Rhynchoporus ferrugeneneus)
• Kumbang berwarna coklat kehitaman. Larva berwarna coklat kehitaman. Jumlah telur : 355 butir


b. Gejala serangan :
• terdapat lubang bekas gerekan dan dijumpai kotoran berwarna merah coklat


c. pengendalian
• Pemotongan tunggul yang terkena serangan Rhynchoporus ferrugeneneus
• Aplikasi Metarhizium untuk mengendalikan larva Rhynchoporus ferrugeneneus pada tempat tempat yang menjadi sarang dan tempat hidup
• Aplikasi Feromon untuk mengendalikan kumbang Rhynchoporus ferrugeneneus
• Aplikasi Nematoda Entomopatogen untuk mengendalikan larva Rhynchoporus ferrugeneneus

3. Kumbang Janur (Brontispa longisima)
a. Morfologi Kumbang Janur (Brontispa longisima)
• Larva berwarna putih kekuningan, tidak begitu aktif bergerak dan cenderung menghindari cahaya
• Imago B. longisima memiliki ukuran tubuh, panjang tubuh 7,5 – 10 mm dan lebar 1,5 mm.
• Imago B. longisima mampu menghasilkan 120 butir sekali kawin
• B. longisima menyerang daun kelapa yang masih muda pada lipatan-lipatan daun. Jika daun sudah membuka tampak menggulung dan kering


b. Pengendalian
• Kultur Teknis
• Pemupukan
• Pengelolaan Air dan Sanitasi kebun untuk menunjang tanaman agar tumbuh dengan sehat dan optimal
• Biologi, penggunaan Tetrastichus brontispae sebagai parasitoid dan Metarhizium anisopliae sebagai jamur patogen. Penggunaan Tetrastichus brontispae dapat menekan hama B. longisima dengan membunuh 10% larva instar akhir dan 60 – 90% kepompong. Pelepasan parasitoid di lapangan dapat dilakukan pada lima titik pelepasan dalam 1 hektar yang ditentukan secara diagonal. Setiap titik pelepasan, dilepas lima kepompong terparasit sehingga diperlukan 25 kepompong terparasit/ha

4. Belalang (Sexava sp.)
a. Morfologi Belalang (Sexava sp.)
• Ukuran tubuh ± 12 cm, berwarna hijau dan ada juga yang berwarna coklat
• Seekor betina dapat bertelur sekitar 50 butir, diletakkan satu per satu di dalam tanah di sekitar pangkal batang kelapa
• Panjang telur ± 12 mm dan bentuk telur seperti gabah padi
• Sexava sp. memakan daun kelapa dari pinggir dan meninggalkan bekas yang tidak rata
• Serangan dimulai dari pelepah bawah hingga tersisa tulang daun saja


b. Pengendalian
• Mekanis : Memusnahkan telur dan nimfanya
• Kultur Teknis : Menanam tanaman penutup tanah seperti Centrosema sp., Calopogonium sp.,
• Biologis : Menggunakan parasitoid Leefmansia bicolor

5. Arthona catoxantha
a. Morfologi Arthona catoxantha
• Telur berwarna kekuningan transparan, berbentuk bulat panjang, berukuran ± 0,6 mm x ± 0,5 mm, diletakkan berkelompok di permukaan daun bagian bawah.
• Ngengat bertubuh langsing, panjang tubuh ngengat 1 cm.
• Tubuh berwarna kuning, sayap berwarna abu atau hijau ada bagian yang kekuning-kuningan.
• Lebar bentang sayap 16 mm
• Ngengat mampu terbang sampai 2 km


b. Gejala serangan :
• Warna daun menjadi kekuningan selanjutnya kering dan gugur.
• Daun terserang dapat ditumbuhi patogen skunder seperti embun madu atau jamur jelaga.
• Daun kelapa tampak berlubang-lubang yang terserang hebat mahkota daunnya seperti bekas terbakar.
• Pada serangan berat yang tertinggal hanya tulang daunnya (lidi)


c. Pengendalian
• Pemangkasan semua pelepah tua kecuali 3 pelepah daun termuda dari pucuk atau pelepah-pelepah daun tua yang belum terserang
• Perangkap cahaya lampu pada malam hari untuk menarik ngengat A. catoxantha. Perangkap dilengkapi dengan ember berisi air yang ditaruh di bawah lampu agar ngengat terjebak ke dalam air dan mati
• Pengendalian dengan memanfaatkan musuh alami seperti parasitoid (Apanteles artonae, Neoplectrus bicarinatus, Tachinidae sp., Euplectromorpha viridiceps, Goryphus inferus), predator Eucanthecona sp., dan jamur patogen Beauveria sp.
• Menggunakan pestisida nabati ekstrak akar tuba pada konsentrasi 3%. Teknik aplikasinya dengan cara penyemprotan.

6. Aspidiotus destructor (Kutu Perisai)
a. Morfologi Aspidiotus destructor (Kutu Perisai)
• Kutu perisai berkembang biak secara partogenesis (tanpa melalui fertilisasi).
• Untuk mendukung perkembangan kutu diperlukan kondisi yang cukup lembab. Pertanaman yang cukup rapat dan hujan terus menerus juga dapat merangsang cepatnya pertumbuhan kutu.
• Puncak perkembangan kutu perisai adalah pada bulan-bulan kering
• Kutu perisai betina menghasilkan telur 40 – 100 butir


b. Pengendalian
• Mekanis : Memotong dan membakar pelepah yang terserang
• Biologis : Menggunakan predator Chilocorus politus / Kumbang buas. Kumbang buas mampu memakan A. destructor sebanyak 80 – 130 ekor. Predator ini dapat diperbanyak di laboratorium.

7. Parasa lepida, Setora nitens (Ulat Api)
a. Morfologi Parasa lepida, Setora nitens (Ulat Api)
• Beberapa genus ulat api yang sering menimbulkan kerugian adalah : Parasa lepida dan Setora nitens
• Telur diletakkan berkelompok di permukaan anak daun. Larva tua membuat kokon pada pangkal-pangkal lidi atau di tempat lain dan sering berkelompok.
• Pupa-pupa ini sering jatuh ke tanah sehingga dapat dilakukan pengendalian terhadap pupa tersebut.
• Larva instar pertama dan kedua hanya mampu makan epidermis sebelah bawah, tetapi bagian atasnya akan mati.
• Pengaruh kerusakannya sama dengan instar-instar lebih lanjut yang mampu menghabiskan seluruh helaian daun kecuali yang dekat dengan lidi atau tulang daun
• Kehilangan helaian daun dapat mencapai 95% per daun. Ulat api merusak bagian bawah daun mulai pinggir ke arah lidinya. Bagian yang diserang pertama adalah anak daun pada bagian ujung pelepah. Akibatnya daun menjadi kering, pelepah tergantung dan buahnya gugur


b. Pengendalian
• Mekanis : dengan mengumpulkan pupa kemudian dimusnahkan / di bakar
• Biologis : Menggunakan musuh alami Eucathecona furcellata (Hemiptera : Coridae) dan Jamur patogen Cordiceps sp.

8. Tirathaba rufivena
• Larva berwarna coklat kotor, terdapat garis memanjang pada bagian punggung. Pupa terdapat pada kokon yang terbuat dari benang sutera kuning.
• Kokon yang terdapat di tanah diantara bunga – bunga yang gugur atau pada pangkal seludang.
• Imago bertelur pada seludang yang sudah terbuka, diantara lekukan bunga jantan.
• Bunga jantan berlubang – lubang. Bongkol bunga penuh kotoran dan berbau busuk.
• Bunga jantan yang terserang T. rufivena akan gugur ke tanah atau mengumpul pada pangkal seludang
• Jika tingkat serangan pada buah muda lebih dari 20%, maka dilakukan pemotongan seludang yang baru terbuka saja pada tandan yang termuda.

Author By : Irma Kisworini, SP. - Hama Pada Tanaman Kelapa - 06 Nov 2020