Image

Menjalin Komunikasi Antara Petani Perkebunan dengan Pemerintah

30 Apr 2011  |   Berita   |  

Apa yang dialami petani perkebunan yang mengalami kesulitan ketika hendak menjual hasil panen saat musim panen tiba, menjadi tanggungjawab semua elemen masyarakat, khususnya Pemerintah Daerah (Pemerintah Kabupaten/Kota) yang menjadi tumpuan pertama dalam membantu mendistribusikan hasil panen.
Jelas disini, betapa pentingnya sinergitas antara petani di subsektor pertanian, perkebunan dengan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota guna mendistribusikan hasil pertanian, perkebunan dan hasil alam lainnya agar bisa dijual untuk masyarakat luas. Karena itulah keberadaan Pasar Induk Agrobisnis Modern seperti Puspa Agro di Desa Jemundo Sukodono Sidoarjo sangatlah diperlukan.
Sekdaprov Jatim Dr H Rasiyo, dihadapan kelompok tani, kelompok usaha komoditas pertanian dan asosiasi petani, ketika meresmikan stand Dinas Perkebunan Provinsi Jatim di Pasar Induk Modern Puspa Agro mengatakan Pemerintah Provinsi berkewajiban menjembatani permasalahan petani dengan mencarikan solusi permasalahan bagaimana memberikan sosialisasi dan penanganan mendistribusikan hasil ketika musim panen tiba.

Selain itu, Pemerintah Provinsi juga berkewajiban mendorong peningkatan mutu hasil perkebunan yang ada di Jatim dengan semakin minimnya lahan pertanian akibat populasi penduduk yang semakin meningkat. Petani diharapkan bisa meningkatkan kualitas produksi hasil panennya dengan tantangan minimnya areal yang ada.

Rasiyo mencontohkan, apahila panen tiba yang biasanya satu kali dalam setahun, bila pembibitannya bisa dilakukan di luar lahan yang ada bisa dimungkinkan bisa panen dua kali setahun sehingga hasil panen tetap terjaga. Sedangkan para pengusaha bisa bersama-sama membantu dalam mencarikan investor untuk permodalannya.

Dalam upaya untuk membantu petani mengembangkan usahanya, maka Pemprov Jatim mempunyai program Jaminan Kredit Daerah (Jamkrida). ”Dengan bantuan permodalan maksimal Rp 200 juta dengan bunga 6% setahun diharapkan para petani bisa mengembangkan usahanya secara maksimal,” katanya
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Jatim, Ir Moch. Samsul Arifien, M.MA mengatakan, dengan luasan areal sebanyak 1 juta hektar, Jatim merupakan salah satu harapan nasional di sub sektor perkebunan. Dimana komoditas tebu menyumbang produksi nasional sebagai bahan baku gula sebesar 45% dengan produksi 1 juta ton lebih dengan areal 190.000 hektar.

Untuk memenuhi target areal tebu sebanyak 225.000 hektar di tahun 2014, pihaknya akan membuka lahan yang baru di daerah Madura dan Tulabo (Tuban, Lamongan dan Bojonegoro). Dimana di daerah ini menurut Kajian Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) kesesuaian lahannya termasuk S2 (cukup sesuai) untuk pengembangan tanaman tebu.*

Author By : Admin - Menjalin Komunikasi Antara Petani Perkebunan dengan Pemerintah - 30 Apr 2011