Image

Zona Pembangunan Perkebunan di Jatim Berdasarkan Potensi Wilayah dan Komoditi

30 Apr 2011  |   Berita   |  

Visi Pembangunan Perkebunan di Jatim adalah mendesign pembangunan perkebungan sesuai tata ruang dan tata wilayah yang dibagi menjadi zona pembangunan perkebunan.
Menurut Kepala Dinas Perkebunan Jatim, Ir Moch. Samsul Arifien M,MA, Zona Pembangunan Perkebunan di Jatim dibagi menjadi 4 (empat) Zona, yakni Zona Pantai Selatan, Zona Tengah, Zona Pantura dan Tapal Kuda, Zona Madura

Zona Pantai Selatan
Banyak dijumpai lahan marginal, iklim kering, akses trasportasi kurang lancar, bergelombang dan bergunung, sepanjang pantai selatan Pacitan sampai dengan Banyuwangi.
Komoditi yang dikembangkan kakao rakyat. Setiap tahun (dimulai 2011) 5 juta bibit kakao untuk pengembangan lahan seluas 5.000 hektar. Tahun depan berkembang menjadi 7 – 10 juta sehingga tahun 2014 diharapkan jalur Pantusel menjadi 100.000 ha tanaman kakao rakyat. Saat ini baru 56.000 ha  

Zona Tengah
Merupakan zona yang subur, karena banyak dilalui sungai dengan iklim B dan C
Komoditi yang dikembangkan umumnya yang memiliki daya saing baik seperti tebu dan kopi. Untuk pengembangan kopi, diutamakan kopi Arabika karena harganya lebih bagus, terutama di lereng Kelud, Argo Wilis, Ijen, Semeru, Bromo dan Argopuro. Sedang kopi Robusta tidak dikembangkan karena sudah optimal kecuali untuk rehabilitasi tanaman.
Di Zona Tengah juga banyak perusahaan perkebunan besar (125 perusahaan) dengan luasan areal sekitar 130.000 hektar

Zona Pantura dan Tapal Kuda
Zona Pantura Jawa beriklim khas pantai, agak kering, lahan sebagian besar grumosol dan aluvial.
Komoditi yang banyak dikembangkan tembakau. Dimana kebutuhan tembakau disesuaikan dengan kebutuhan pabrik rokok. Luasan areal sekitar 110.000 hektar dengan produksi 85.000 ton/tahun. Ada berbagai jenis tembakau, seperti Madura, Virginia, Paiton, Kasturi dan Na Oost Jawa. Khusus Virginia akan terus dikembangkan  arealnya karena permintaan pabrik rokok terus meningkat. Karena tiap tahun impor dari RRC  kurang lebih 30.000 ton. Sedangkan produksi tembakau Virginia Jatim hanya 12.000 ton/tahun.
Besuki Na Ost sebagai bahan cerutu kecenderungan menurun arealnya, karena petani beralih ke Kasturi yang lebih mudah teknis budidayanya. Kini tinggal 4.000 ha, padahal dulu pernah 10.000 ha, sehingga target ditingkatkan.

Zona Madura
Sebenarnya zona Madura dibagi tiga uakni Zona Pantusel Madura dan Zona Tengah Madura dan Zona Pantura Madura.

Zona Pantusel
Merupakan lahan pantai, beriklim kering dan masih dijumpai lahan tadah hujan. Komoditi yang potensial dikembangkan tebu 9Bangkalan dan Sampang), Kelapa, cabe jamu dan wijen

Zona Tengah Madura
Lokasi datar dan agak bergunung, relatif agak subur untuk wilayah Madura. Komoditi yang dikembangkan tembaku. Di wilayah Sumenep dan Pamekasan tembakau meningkat terus tiap tahun arealnya. Saat ini mencapai 40.000 ha dengan produksi 200.000 ton. Sedang kebutuhan pabrik rokok 15.000 ton, sehingga over produksi (5.000 ton) akibatnya harga cenderung murah. Tembakau Madura selain aromanya khas, kandungan nikotin dan TAR-nya rendah, yakni kurang dari 2%

Zona Pantura Madura
Lokasi pantai, iklim kering, dekat pantai lahan berpasir, sebagian kering berbatu. Komiditi yang dikembangkan Jambu mete. Saat ini areal yang ada 30.000 ha, sebagian besar tanaman tua sehingga produksi rendah. Kualitas mete Madura bagus, yakni lebih besar dibanding mete dari Pulau Muna dan NTT. Ekspor mete Jatim kebanyakan berasal dari Pulau Muna.
Untuk pengembangan mete tahun 2011 seluas 1.500 ha, dengan sumber dana APBD sebanyak 1.000 ha, 500 ha dari APBN. Karena tanaman mete pertumbuhannya lama, maka diberikan bantuan tanaman diversifikasi seperti jagung, kacang dan ternak kambing.

Author By : Admin - Zona Pembangunan Perkebunan di Jatim Berdasarkan Potensi Wilayah dan Komoditi - 30 Apr 2011