Image

JATIM AGRO SUB SEKTOR PERKEBUNAN

2019-05-29 14:10:26  |   Berita   |  

<br> Khusus untuk sub sektor perkebunan, Jawa Timur memiliki potensi yang cukup besar. Total areal perkebunan seluas 1,003 juta hektar,  komoditi utama meliputi : tebu, tembakau, kopi, kakao, kelapa, cengkeh dan jambu mete, dengan total produksi mencapai 1,76 juta ton. Implementasi dari program Jatim Agro sesuai Nawa Bhakti Satya, maka pada dasarnya pembangunan perkebunan di Jawa Timur tidak hanya fokus kepada aspek produksi saja, tetapi harus berkelanjutan hingga pada tataran pengolahan dan pemasaran produk, agar petani ikut menikmati nilai tambah yang besar di aspek pasca panen.
Salah satu keinginan Ibu Khofifa, Gubernur Jawa Timur yang disampaikan di sela-sela acara Simposium Inovasi Pelayanan Publik di Banyuwangi pada tanggal 24 s/d 25 April 2019, beliau mempunyai tekad untuk mendirikan Sekolah Kopi dan Kakao di Banyuwangi, mengingat Banyuwangi memiliki potensi yang cukup besar pada kedua komoditi perkebunan tersebut. Ide ibu Gubernur tersebut cukup memiliki landasan yang kuat, karena komoditi kopi dan kakao sangat potensial sebagai komoditi agro industri yang dapat dikembangkan di kawasan pedesaan.


Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur akan merealisasikan Program Jatim Agro Sub Sektor Perkebunan, prioritas terhadap komoditi unggulan perkebunan, yakni : Tebu, Tembakau, Kopi dan kakao.  
Pada aspek “tanam” akan dilakukan pengembangan komoditi tebu, tembakau, kakao dan kopi arabika, sementara untuk kopi robusta dan kebun kakao yang kurang produktif akan dilakukan rehabilitasi. Sasaran aspek tanam adalah meningkatnya produksi dan produktivitas kebun. Sementara pada aspek “petik”, petani terus menerus diberikan edukasi agar melakukan petik pada saat tepat masak, sasarannya meningkatnya mutu produk primer dan mencegah penjualan sistem ijon yang masih terjadi di beberapa lokasi dan penjualan daun basah atau buah glondong basah.
Untuk aspek “olah”, khususnya untuk komoditi kopi dan kakao, kelompoktani dibina agar melakukan pengolahan hingga menghasilkan produk setengah jadi dan produk akhir. Selanjutnya petani dididik untuk mampu melakukan “kemas” dengan baik. Pada akhirnya petani didorong untuk mempu men”jual” produknya dalam bentuk produk setengah jadi (kakao : nibs, pasta, lemak; kopi : roasted) atau produk akhir (kakao : makanan/minuman cokelat; kopi : powder/bubuk).
Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan fasilitasi agar program daapat dilakukan oleh kelompoktani, antara lain : sarana produksi (bibit, pupuk);  peralatan pra panen, panen dan pasca panen; akses pasar; akses permodalan (kredit, hibah); peningkatan SDM (pelatihan, sekolah lapang, study banding, magang); dan penguatan kelembagaan (legalitas, perijinan, sertifikasi)