Image

TEKNOLOGI KONSERVASI KOMODITI TEMBAKAU DI KABUPATEN MAGETAN

2019-11-18 10:00:14  |   Berita   |  

Salah satu kabupaten yang merupakan wilayah pengembangan tembakau di Jawa Timur adalah kabupaten Magetan. Di kabupaten Magetan, jenis tembakau yang dibudidayakan adalah tembakau Jawa. Adapun salah satu lokasinya terdapat di kecamatan Plaosan. Kecamatan Plaosan merupakan salah satu kecamatan yang berjarak ± 11 km dari ibukota kabupaten. Kecamatan Plaosan terletak di ketinggian 1.000 mdpl dimana curah hujan berkisar 2.000 – 2.500 mm/tahun.

Di kabupaten Magetan, komoditi tembakau dikembangkan di kecamatan Plaosan yang merupakan daerah pegunungan. Komoditi tembakau tersebut dipanen dalam bentuk daun basah. Di kecamatan Plaosan juga dikembangkan tanaman hortikultura seperti wortel, kubis, kentang dan bunga hias seperti bunga mawar. Lahan tanaman hortikultura berdekatan dengan tanaman tembakau. Kecamatan Plaosan terletak di ketinggian 1.000 mdpl di mana wilayah tersebut terdapat di lereng gunung lawu. Pada ketinggian 1.000 mdpl, maka komposisi tanaman yang dibudidayakan harus ada tanaman tahunan sebagai tanaman penguat teras. Di daerah tersebut terdapat tanaman cengkeh, kopi, kakao dan kelapa yang dapat digunakan sebagai tanaman konservasi sekaligus tanaman penguat teras. Selain sebagai tanaman konservasi dan penguat teras, daun-daun dari tanaman tersebut dapat digunakan sebagai pakan ternak, pupuk hijau ataupun sebagai mulsa organik sehingga secara tidak langsung mengurangi pemakaian pupuk dan pestisida anorganik.

Lahan dengan kemiringan lebih dari 15% berpotensi terhadap terjadinya erosi sehingga mengakibatkan terjadinya degradasi lahan. Kondisi lahan yang kritis mengakibatkan penurunan produktivitas lahan dan semakin terbatasnya areal pengembangan tembakau. Di sisi lain, praktek budidaya dengan pengolahan lahan yang intensif mengakibatkan terjadinya degradasi lahan dengan indikasi penurunan bahan organik tanah sehingga produksi mengalami penurunan. Pengolahan lahan untuk tanaman tembakau dilakukan pada bulan Januari – Pebruari dimana pada bulan tersebut curah hujan masih tinggi.

Untuk mempertahankan produktivitas lahan tembakau di dataran tinggi perlu dilakukan usaha – usaha konservasi agar kegiatan budidaya tanaman tembakau tetap berjalan dan laju erosi dapat ditekan. Beberapa teknik konservasi yang dapat diterapkan pada areal tembakau di daerah dataran tinggi adalah :

  1. Pembuatan Teras, Guludan Dan Rorak
  2. Pembuatan teras dilakukan dengan memotong arah kemiringan. Untuk mengurangi panjang dan kemiringan lahan dibuat saluran-saluran pemotong dengan kedalaman 30 – 100 cm menyesuaikan dengan kedalaman tanah dan kemiringan lahan. Sedangkan pembuatan guludan dibuat berlawanan dengan kemiringan sehingga dapat mencegah terjadinya laju erosi dan mengurangi kelembaban dalam tanah. Pembuatan lubang penampungan / rorak dikombinasikan dengan penambahan bahan organik. Ukuran rorak yang sering diterapkan adalah 0,8 x 0,4 x 0,4 m. Pembuatan rorak dibuat sebanyak 50% dari jumlah pohon dengan letak rorak saling menyilang. Bahan organik yang digunakan adalah seresah – seresah daun.

  3. Pengolahan Tanah Minimal
  4. Pengolahan tanah minimal bertujuan untuk mempertahankan kadar bahan organik tanah. Bahan organik tanah memiliki peranan sangat besar dalam memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Pengolahan tanah minimal dapat dilakukan dengan alur-alur erosi yang umum dijumpai pada jenis tanah andisol. Sifat fisik tanah andisol adalah mempunyai daya pengikatan air sangat tinggi, selalu jenuh air tertutup vegetasi, sangat gembur tetapi mempunyai derajat ketahanan struktur yang sangat rendah sehingga mudah diolah, permeabilitas sangat tinggi karena mengandung banyak pori.

  5. Introduksi Tanaman Penguat Saluran Pemotong Lahan
  6. Pada umumnya petani membuat saluran – saluran pemotong lahan untuk mengurangi panjang dan kemiringan lahan.Tanaman penguat berfungsi untuk memperkuat dinding dan bibir saluran pemotong dan menjadi penyaring partikel-partikel tanah yang halus sehingga tanaman penguat harus memiliki perakaran yang serabut dan dalam. Tanaman penguat teras antara lain Setaria, Flemingia dan rumput gajah. Fungsi lain dari tanaman penguat teras adalah sebagai bahan organik dan pakan ternak.

  7. Penanaman Vegetasi Penutup Tanah
  8. Tanaman penutup tanah berfungsi untuk mengurangi daya kikis aliran permukaan sehingga lapisan tanah yang hilang akibat erosi dapat ditekan. Tanaman penutup tanah dapat diatur dengan pola tumpang sari. Selain untuk menjaga lengas tanah. Tanaman yang biasanya digunakan sebagai penutup tanah adalah koro tunggak, koro benguk dan kapri. Tanaman penutup juga bisa difungsikan sebagai sumber pupuk hijau.

  9. Penambahan Bahan Organik Tanah
  10. Proses dekomposisi kandungan bahan organik tanah di daerah tropis pada umumnya terjadi lebih cepat dikarenakan suhu dan kelembaban yang tinggi. Penurunan kandungan bahan organik ini dipercepat dengan adanya erosi yang tinggi di daerah dataran tinggi yang komposisi vegetasinya kurang.
    Untuk meningkatkan produktivitas lahan dibutuhkan penambahan bahan organik ke dalam tanah. Sumber bahan organik dapat berasal dari pupuk kandang ataupun pupuk hijau. Kebutuhan pupuk kandang sebagai bahan organik tanah mencapai ± 20 – 30 ton/ha. Kebutuhan pupuk hijau dapat diperoleh dari tanaman Crotalaria juncea (Orok-orok). Tanaman Crotalaria juncea (Orok-orok) dapat membantu dalam penyediaan hara N dan P. Tanaman ini dapat digunakan sebagai pupuk hijau pada umur 40 – 45 hari. Akar tanaman Crotalaria juncea (Orok-orok) dapat mengeluarkan eksudat yang dapat menekan perkembangan telur nematode parasite tumbuhan.
    Dengan berbagai teknologi-teknologi konservasi tersebut, petani dapat menerapkan pada lahan mereka masing-masing sehingga produksi dan produktivitas dapat mencapai nilai yang optimal sehingga pendapatan petani juga meningkat pula. Teknologi-teknologi konservasi tersebut bertujuan agar kegiatan budidaya tanaman perkebunan tetap dapat berkelanjutan dan berwawasan lingkungan mendukung kegiatan pertanian organik (bebas pestisida).