Image

Pasang Surut Kejayaan Cengkeh Nusantara : Sejarah dan Perkembangannya

29 May 2020  |   Berita   |  

Cengkeh, tidak terbantahkan lagi merupakan tanaman asli Indonesia tepatnya dari Kepulauan Maluku. Beberapa abad sebelum Masehi tanaman ini menyebar melalui pedagang Arab ke benua Eropa dengan melintasi jalur sutra yang membentang dari Tiongkok sampai Eropa. Salah satu pelabuhan transit yang terkenal pada saat itu adalah pelabuhan Malaka yang merupakan pertemuan distribusi rempah-rempah dari timur. Di Eropa untuk pertama kalinya mereka dapat mengawetkan dan menimbun makanan selama bermusim-musim karena cengkeh dan pala. Selain itu mereka menggunakan cengkeh sebagai bumbu makanan, obat-obatan dan ramuan wewangian. Tentu saja hal ini membuat mereka tidak puas jika hanya mendapatkan rempah-rempah tersebut dari pedagang arab.
Ketidakpuasan inilah yang akhirnya memunculkan ekspedisi untuk mencari sumber rempah-rempah langsung ke negeri asalnya. Dimulai oleh negara Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda. Ketika armada mereka mencapai kepulauan Maluku pada abad 16, menyebabkan peperangan yang tidak terhindarkan. Belanda melalui Perusahaan DagangHindia Timur (VOC –Vereenigde Oostindische Compagnie) memenangkan pertempuran dan menguasai penuh perdagangan rempah dan sekaligus kolonialisme di kepulauan Nusantara. Belanda melancarkan ekspedisi Hongi untuk memusnahkan semua tanaman cengkeh di Ternate, Tidore, Moti dan Makian lalu membatasi ketat penanamannya hanya di Pulau Ambon dan Lease yang lebih dekat ke Banda sebagai pusat pemerintahan mereka sebelum dipindahkan ke Batavia. Selama 2 abad VOC menguasai perdagangan rempah hingga pada tahun 1770 seseorang berkebangsaan Perancis, Pierre Poivre berhasil menyelundupkan bibit cengkeh dan pala keluar dan mengembangbiakkannya di Zanzibar, Madagaskar dan Martinique (Puthut, EA, dkk., 2013
Pertengahan abad 18 terjadi revolusi industri di Inggris dengan adanya penemuan mesin pendingin yang menggantikan cengkeh sebagai pengawet makanan. Hal ini menyebabkan penurunan performa cengkeh di mata Eropa dan pasaran cengkehpun merosot tajam. Beruntunglah Haji Djamhari dari Kudus menemukan kegunaan baru cengkeh yaitu sebagai ramuan pada rokok. Waktu itu orang Jawa merokok tembakau yang dibungkus daun (rokok klobot). Pada suatu ketika Haji Djamhari merasa sakit di dada dan mencoba menggosoknya dengan minyak cengkeh dan mengunyah cengkehnya sekaligus. Merasa lebih enak, akhirnya ia merajang cengkeh dan mencampurnya dalam bungkus klobot. Akhirnya teman-temannya ikut mencoba dan ia membuat rokok cengkeh sebagai mata pencaharian. Nama rokok cengkeh ini diubah menjadi rokok kretek karena berbunyi kretek-kretek waktu dibakar dan dihisap (Literasi publik, 2018). Walaupun awalnya hanya di skala rumah tangga, industri terus meningkat pesat sampai muncul pabrik rokok raksasa. Tentu saja performa cengkeh kembali meningkat. Industri rokok merupakan penyumbang terbesar kas negara sejak tahun 1970 an. Pada tahun 1990 an melalui Badan Penyanggah dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) pemerintah Republik Indonesia menetapkan sistem monopoli dalam perdagangan cengkeh yang tentu saja sangat merugikan petani. Harganya saat itu bahkan lebih murah dari harga rokok kretek. Hal ini menyebabkan petani menelantarkan cengkehnya dan bahkan lebih tragis dengan menebangnya.
Cengkeh terus merana karena pemiliknya tidak melakukan pemupukan maupun pengendalian hama dan penyakit. Tanaman tua yang tidak dipupuk mengakibatkan produktivitasnya menurun dan rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Berbagai hama dan penyakit yang menyerang tanaman cengkeh adalah penggerek batang cengkeh (Nothopeus sp), penggerek cabang cengkeh (Xyleborus hemipterus), Penyakit Bakteri Pembuluh Kayu Cengkeh (Pseudomonas syzygii), Cacar Daun Cengkeh (Phylosticta syzygii), Penyakit Bercak daun (Cylindrocladium quinguseptatum) dan masih banyak lagi. Penggerek batang dan penggerek cabang cengkeh membuat gerekan pada batang dan meninggalkan kotorannya didalam batang sehingga menghambat penyaluran makanan dari akar ke daun maupun sebaliknya. Penyakit Bakteri Pembuluh Kayu Cengkeh (BPKC) meninggalkan eksudatnya didalam pembuluh kayu sehingga mengganggu penyerapan makanan dari akar ke daun sehingga tidak terbentuk fotosintesa dan hasil akhirnya tidak ada makanan yang diedarkan.
Pada saat ini, Nothopeus sp dan BPKC menduduki peringkat serangan tertinggi terhadap cengkeh di Jawa Timur. Deretan kebun cengkeh di Jawa Timur merana, mengering dan bahkan mati karena serangan OPT ini. Petani kembali mengeluh dan berniat untuk menggantinya dengan komoditi lain. Namun, dengan sikap takacuh yang diperlihatkan saat ini akankah komoditi lain itu juga akan bertahan. Karena sangat penting untuk mengembalikan sebagian hasil panen ke tanaman agar tanaman tersebut tetap bertahan terhadap serangan hama dan penyakit dan tetap berproduksi dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA
Literasi Publik, 2018, Sejarah Perkembangan industri rokok di Indonesia, https://www.literasipublik.com/sejarah-industri-rokok-di-indonesia, diakses pada tanggal 22 Mei 2020
Puthut, EA., dkk., 2013, Ekspedisi Cengkeh, Inninnawa, Makasar

Hanik Sulistyawati, SP
POPT Pertama