Image

Nematoda Parasit Tumbuhan pada Komoditi Kopi

12 Jan 2020  |   Berita   |  

Nematoda parasit tumbuhan merupakan kendala utama pada tanaman kopi di Indonesia, terutama untuk jenis kopi Arabika. Spesies penting yang dijumpai di Indonesia adalah Pratylenchus coffeae, R. similis dan Meloidogyne spp. (Wiryadiputra, 1992). Hampir semua propinsi produsen kopi di Indonesia, antara lain Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTT, dan Sulawesi Selatan, telah terinfeksi oleh nematoda P.coffeae. Penurunan produksi oleh P. coffeae pada kopi Robusta berkisar antara 28,7% sampai 78,4%. Pada kopi Arabika, biasanya tanaman hanya bisa bertahan selama 2 tahun (Wiryadiputra dan Atmawinata, 1998). Gejala umum serangan nematoda parasit tumbuhan adalah tanaman kerdil dengan daun menguning dan berguguran, pertumbuhan cabang primer terhambat sehingga pertumbuhan bunga juga terhambat, bagian akar yang terserang berair dan busuk serta pada serangan berat tanaman dapat mati.

Nematoda parasit tumbuhan menyerang bagian akar dan membentuk gall (bintil akar). Apabila gall ini dilakukan uji laboratorium maka diperoleh koloni nematoda parasit. Beberapa jenis nematoda parasit tumbuhan yang menyerang tanaman kopi, antara lain :

1. Radopholus similis (Nematoda Pelubang Akar)

Nematoda Radopholus similis termasuk dalam Kelas Secernentea, Ordo Tylnchida, Famili Pratylenchidae dan Genus Radopholus. Dari sisi biologi, nematoda luka akar mempunyai perbedaan dengan nematoda yang lain. Nematoda luka akar akan dapat berkembang biak lebih baik di dalam akar tanaman yang pertumbuhannya tidak baik (Dropkin,1992). Nematoda Radopholus similis berukuran kecil (panjangnya kurang dari 1 mm), apabila dipanaskan secara hati-hati maka tubuhnya lurus atau sedikit melengkung pada bagian ventral. Panjang tubuh nematoda R. Similis 50 ?m, bagian kepalanya agak oval, dan memiliki ekor yang agak runcing. Nematoda ini bersifat endoparasitik yang berpindah-pindah dan semua stadiumnya terdapat di dalam jaringan korteks inangnya (Luc et al.,1995).

2. Pratylenchus coffeae (Nematoda Peluka Akar)

Pratylenchus coffeae merupakan nematodaparasit yang penyebaranya luas dan merusak tanaman kopi. Hal tersebut terjadi di Republik Dominika, El Savador, Guatemla, Puerto Rico, Costa Rica, Brazil, India, Asia Tenggara, Barbados, Martinik, Tanzania, Madagaskar, Indonesia, dan Venezuela. Nematoda P. Coffeae pada inang selain tanaman kopi ditemukan di Afrika Selatan, Brazil, dan Oman(Campos &Villain, 2005).

Pratylenchus coffeae bertelur di dalam jaringan akar. Daur hidupnya berkisar antara 45-48 hari dengan rincian sebagai berikut: inkubasi telur selama 15-17 hari, perkembangan larva hingga menjadi dewasa sekitar 15-16 hari dan perkembangan nematoda dewasa hingga meletakkan telur sekitar 15 hari. Pratylenchus coffeae termasuk dalam Kelas Adenophorea, Ordo Tylenchidae, Famili Pratylenchidae dan Genus Pratylenchus (Inserra, et.al., 1998). Nematoda ini mempunyai panjang tubuh 0,46-0,70 ?m , panjang stilet 15-18 ?m, panjang spikula 15-18 ?m (Handooetal., 2008).

3. Meloidogyne spp.

Meloidogyne spp. terdiri lebih dari 90 spesies. Sembilan belas telah dikaitkan dengan kopi dibanyak negara di seluruh dunia, termasuk yang sangat merusak dan menyebabkannya kerugian besar bagi petani kopi dan ekonomi negara-negara berkembang. Nematoda Meloidogyne spp.merupakan nematoda penting perusak tanaman kopi. Dikenal 17 spesies Meloidogyne spp yang telah dipublikasikan yaitu Meloidogyne exigua, Meloidogyne africana , Meloidogyne arabicida L, Meloidogyne arenaria, Meloidogyne thamesi, Meloidogyne coffeicola, Meloidogyne decalineata, Meloidogyne hapla, Meloidogyne incognita, Meloidogyne inornata, Meloidogyne izalcoensis, Meloidogyne javanica, Meloidogyne kikuyensis, Meloidogyne konaensis, Meloidogyne mayaguensis, Meloidogyne megadora, Meloidogyne oteifae dan Meloidogyne Paranaensis (Sauza, 2000). Meloidogyne betina mempunyai panjang 380 ?1348 ?m berbentuk pir, tubuhnya berwarna putih. Bibir median menyatu menjadi dua pasang, dan satu asimetris, styletnya kuat dengan panjang 10-25 ?m. Betina biasanya endoparasit, merangsang terbentuknya gall pada akar.

4. Rotylenchulus sp

Rotylenchulus sp pada fase larva hidup bebas di tanah, tubuhnya vermiform dengan ukuran 0,23-0,64 mm. stilet berukuran sedang, vulva terletak pada bagian posterior (V = 58-72), bentuk ekor dengan ujung bulat. Fase dewasa nematoda Rotylenchulus sp tinggal di akar bentuk tubuhnya bengkak berbentuk ginjal. Bagian anterior tidak beraturan (Huntet al.,2005). Rotylenchulus sp merupakan nematoda penting pada tanaman kopi. Valdez (1968) melaporkan di Filipina, Rotylenchulus reniformis sebagai agen penyebab akar gada pada kopi arabika dan bibit kopi robusta.


Serangan nematoda parasit tumbuhan dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi kerdil dan pembungaan terhambat sehingga biji kopi tidak terbentuk. Oleh karena itu perlu dilakukan pengendalian serangan nematoda parasit pada tanaman kopi, diantaranya :

1. Pemakaian benih/bibit sehat dan tahan

Penanaman jenis kopi disesuaikan dengan ketinggian tempat. Kopi Arabika ditanam dengan ketinggian minimal 1000 mdpl. Sedangkan kopi Robusta ditanam dengan ketinggian 600 – 900 mdpl. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia telah menemukan anjuran klon kopi Robusta BP 308 yang tahan terhadap nematoda dan juga tahan kekeringan. Kopi Robusta BP 308 dianjurkan digunakan sebagai batang bawah untuk penyambungan dengan batang atas dengan klon-klon anjuran kopi Robusta sesuai agroklimat setempat atau klo anjuran kopi Arabika. Adapun klon-klon anjuran kopi Robusta adalah BP 42, BP 409. BP 534, BP 358, BP 436, BP 936, Sintaro 1, Sintaro 2, Sintaro 3 dan Sehasence. Varietas anjuran kopi Arabika yaitu Gayo 1, Gayo 2, Andungsari 2K, Andungsari,Sigararutang, S 795 dan Komasti (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, 2009).

2. Rotasi tanaman

Rotasi tanaman dimaksudkan untuk mengurangi kepadatan populasi nematoda di dalam tanah yang sudah terinfeksi nematoda. Rotasi tanaman dilakukan dengan menanam jenis tanaman yang bukan inang dari patogen tersebut. Penanaman dengan tanaman yang bukan inang patogen bertujuan untuk memutus siklus hidup nematoda. Peningkatan populasi nematoda dalam tanah banyak dipengaruhi oleh penanaman tanaman inang secara terus menerus (Munif, 2003). Tanaman yang bukan inangnya misalnya koro benguk (Mucuna sp.), kakao indak dan tebu.

3. Solarisasi tanah

Solarisasi dengan menggunakan plastik gelap maupun terang adalah upaya untuk meningkatkan suhu tanah pada level tertentu sehingga dapat menekan populasi nematoda maupun patogen tanah. Mekanisme penekanannya dapat secara langsung dengan terbunuhnya propagul patogen atau nematoda akibat peningkatan suhu karena proses penutupan tanah dengan dengan plastik dalam jangka waktu tertentu.

4. Penggenangan tanah

Penggenangan tanah yang telah terinfeksi nematoda selama beberapa bulan dapat mengurangi populasi nematoda. Penggenangan nematoda Meloidogyne sp. dan Radopholus similis dapat mengurangi serangan nematoda (Munif, 2003).

5. Aplikasi nematisida nabati

Penggunaan tanaman paitian (Tithonia tagetiflora) sebagai nematisida nabati mampu menekan populasi nematoda parasit (Arsadja dkk, 1996). Penggunaan tanaman paitan telah dilakukan untuk mengendalikan Pratylenchus coffeae pada tanaman kopi. Morfologi tanaman paitan adalah tanaman perdu berbatang tegak setinggi 1 – 3 meter, batang bulat, berangsur meruncing pada pangkal. Bunga berbentuk cakram sangat banyak dan berwarna kuning.

6. Penyiangan

Penyiangan dilakukan dengan cara membersihkan tanaman yang telah terinfeksi nematoda parasit maupun tanaman di sekitar lahan lalu membakarnya di luar lahan dengan tujuan untuk menghilangkan tanaman yang dapat dijadikan inang alternatif bagi nematoda sehingga dapat memutus siklus hidup nematoda.

7. Pemakaian mulsa organik

Pemakaian mulsa organik berasal dari seresah-seresah daun atau jerami yang disebar di sekitar tanaman utama. Pemakaian mulsa organik dapat mengurangi penguapan di dalam tanah, mengatur kelembaban tanah. Pemakaian mulsa organik juga dapat memelihara pertumbuhan bahan organik dari nematoda saprofit (Pelodera cylindrica, Diploscapter coronata), nematoda predator (Prionchulus punctatus, Mononcush aquaticus), jamur perangkap nematoda (Arthrobotrys, Dactylaria) dan musuh alami bakteri (pasteuria penetrans), jamur Dactylella oviparasitica yang dapat menekan jumlah pupulasi nematoda parasit tanaman (Gerald, 1991; Graham 1991).

8. Aplikasi tanaman antagonis

Pemakaian tanaman antagonis, misalnya tanaman kenikir (Tagetes spp.). Tanaman Kenikir (Tagetes spp.) merupakan salah satu jenis tanaman yang bersifat antagonis terhadap nematoda Pratylenchus spp. dan dapat menurunkan populasi nematoda dalam jumlah yang besar, karena diduga memiliki kandungan senyawa kimia yang dapat menekan populasi nematoda (Dropkin, 1991). Menurut Wiryadiputra (1987), tanaman Kenikir dapat menghasilkan senyawa yang dikeluarkan melalui eksudat akar yang dapat meracuni nematoda. Efektifitas tanaman kenikir adalah karena mengandung dua jenis senyawa nematisidal yang tergolong senyawa Thiopenic. Senyawa tersebut dapat memacu produksi radikal oksigen sehingga menghambat laju metabolisma nematoda. Dengan tumbuhnya Tagetesspp. pada pertanaman/kebun, populasi Pratylenchus dapat ditekan sampai 90%, efek yang diperlihatkan seperti nematisida

9. Aplikasi pupuk kandang

Efektifitas bahan organik untuk mengendalikan nematoda parasit tanaman telah banyak terbukti dimana mekanisme penekanan populasi nematoda oleh bahan organik disebabkan oleh: meningkatnya jumlah jenis predator yang mamakan parasit nematoda, hasil penguraian bahan organik secara langsung bersifat meracuni terhadap nematoda parasit, meningkatkan jumlah jamur yang dapat membunuh nematoda dan terjadinya perubahan pH, suhu dan status oksigen atau nitrogen dalam tanah sehingga mengakibatkan keadaan yang tidak sesuai bagi aktifitas nematoda. Berbagai jenis bahan organik diketahui berpengaruh negatif terhadap perkembangan nematoda parasit tanaman.

Menurut Wiryadiputra dkk. (1987) dari pusat penelitian kopi dan kakao Jember, kulit kopi (pulp) dan pupuk kandang terbukti cukup efektif dalam menekan populasi nematoda parasit di pembibitan kopi. Hasil penelitian terakhir mengenai pengaruh pupuk kandang dalam pengendalian P. coffeae pada kopi Arabika jenis Kartika menunjukkan bahwa bahan organik tersebut dengan dosis 15 kg/pohon/tahun sangat efektif dalam menekan populasi P. coffeae dan memperbaiki pertumbuhan tanaman. 

Penggunaan bahan organik (kotoran ayam, sapi, kambing, sekam padi, serbuk gergaji atau tepung biji mimba) dapat mengurangi populasi nematoda M. Incognita dan P.brachyurus. Pemupukan bahan organik dilakukan bertujuan memperbaiki struktur tanah sehingga tanaman dapat tumbuh subur. Tanaman yang sehat dan kuat lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Di dalam pupuk oganik terutama pupuk kandang/kompos banyak berkembang mikroorganisme yang dapat berperan sebagai musuh alami nematoda, misalnya jamur perangkap seperti pada nilam, dan efektivitasnya hampir sama dengan nematisida carbofuran 3% (Mustika dan Nuryani, 2006).

10. Aplikasi agensia hayati

Pengendalian secara biologi Pasteuria penetrans, maupun bakteri saprofit yang berasal dari rizosfer seperti Bacillus subtilis, Pasteuria fluorescens, Agrobacterium radiobacter. Demikian juga agen pengendali dari kelompok cendawan seperti Paecilomyces lilacinus, Arthrobotrys oligospora, Dactilella. Hasil percobaan Irfan (2006), menunjukkan bahwa jamur sp. (Munif, 2003). A. oligosporaumur 15 dan 30 hari yang diinokulasikan dengan 600 ekor nematoda R. similis dapat memberikan penekanan terhadap populasi R. similis pada tanaman kopi.


Daftar Pustaka

Wiryadiputra, S. dan O. Atmawinata. 1998. Kopi (Coffea spp.). Dalam: Pedoman Pengendalian Hama Terpadu Tanaman Perkebunan. Puslitbang Tanaman Industri Badan Litbang Pertanian. Deptan. Hal. 53-59

Dropkin, V. H. 1992. Pengantar Nematologi Tumbuhan. Gadjah Mada University. Yogyakarta.

Inserra, R. N., L. W. Duncan, D. Dunn, D. Kaplan, and D. Porazinska. 1998. Pratylenchus pseudocoffeae from Florida and its relationship with P. gutierrezi and P. coffeae. Nematologica 44:683-712.


Munif, A. 2003. Prinsip-prinsip Pengelolaan Nematoda Parasit Tumbuhan Di Lapangan. Makalah pada ”Pelatihan Identifikasi dan Pengelolaan Nematoda Parasit Utama Tumbuhan”. Pusat Kajian Pengendalian Hama Terpadu (PKPHT)-HPT, Institut Pertanian Bogor, 26-29 Agustus 2009.10 h.

Gerald Thorne. 1961. Principles Of Nematology. New York. London. 511 p.

Graham R. Striling. 1991. Biological Control Of Plant Parasitic Nematodes. Redwood Press Ltd. Melksham. 233p.

Mustika, I. dan Y. Nuryani. 2006. Strategi Pengendalian Nematoda Parasit Pada Tanaman Nilam. Balai Penelitian Rempah dan Obat Bogor. Jurnal Litbang Pertanian, 25(1). 2006. hal. 7-15.