Image

Jawa Timur Ekspor Kopi 70 Ribu Ton per Tahun

25 May 2011  |   Berita   |  

Jatim tiap tahunnya selalu mengalami surplus dari hasil produksi kopi yang bisa dieskpor ke luar negeri. Dari data Dinas Perkebunan (Disbun) Jatim, hasil produksi mencapai 60 ribu ton, namun yang diekspor bisa lebih, yakni mencapai 70 ribu ton. Kelebihan itu ternyata masih ada kopi asal luar provinsi lain yang masuk ke Jatim dan diekspor atas nama kopi dari Jatim.

Kepala Dinas Perkebunan Jatim, Ir M Samsul Arifien MMA di Madiun, Rabu (25/5) malam mengatakan, kopi dari Jatim memiliki citarasa yang unik, sehingga banyak diminati pasar dari Eropa. Atas potensi ekspor yang cukup bagus itu, rupanya daerah lain banyak yang memanfaatkan pasar tersebut. "Kopi Bali dan Lampung banyak yang masuk, seperti ke Dampit. Kopi itu akhirnya diolah dan diekspor dengan nama Java Coffee," ujarnya.

Selama ini, untuk konsumsi bagi masyarakat Jatim per tahun sekitar 15 ribu ton. Jika Jatim mampu hasilkan 60 ribu, maka sisanya bisa diekspor. Karena masih besarnya potensi pasar ekspor kopi, maka pihaknya tahun ini mengupayakan rehabilitasi lahan tanam kopi robusta di empat kabupaten, yakni Madiun, Pacitan, Ponorogo, dan Tulungagung dengan total luas lahan sebesar 200 hektare.

Menurut dia, rehabilitasi ini perlu dilakukan agar minat petani kebun lebih memilih pengembangan tanaman komoditas kopi bisa tercapai. Artinya, dengan adanya rehabitasi tersebut, maka hasil produski bisa meningkat untuk kebutuhan konsumsi dalam negeri dan ekspor ke luar negeri.

Ia menuturkan, untuk tiga daerah, yakni Madiun, Pacitan, Ponorogo masing-masing akan direhabilitasi lahannya seluar 40 hektare. Lahan tersebut akan ditanami kembali bibit kopi robusta sebanyak 5000 batang dan diberi pupuk majemuk sebanyak 400 kg. Sedangkan di Tulungagung lahannya lebih luas, yakni 80 hektare dan ditanani bibit sebanyak 10.000 batang dan diberi pupuk majemuk sebanyak 800 kg. Menurut Samsul, rehabilitasi ini dilakukan untuk mengganti bibit kopi robusta yang sudah tua atau rusak secara bertahap. Rencananya tiap hektarenya akan ditanami 125 batang dan diberi pupuk majemuk 10 kg per hektare.

Saat ini, Pemprov Jatim memang tengah gencar mengarahkan petani agar menanam komoditas kopi yang memiliki keuntungan maksimal, seperti robusta. Selain itu petani yang juga tergabung dalam Gapoktan juga terus difasilitasi guna mempermudah akses pasar dan kerjasama dengan pabrik/eksportir. Selama ini, petani kopi umumnya masih sering menjual hasilnya dalam bentuk glondong basah atau ose. Sebagian besar mereka juga telah mengolah dengan sistem olah kering. Keduanya itu dilakukan karena sarana pengolah kopi basah milik petani masih kurang. Selain itu petani juga belum terbiasa melakukan petik merah sehingga insentif harga olah basah di beberapa daerah tidak terlalu besar dan keuntungannya masih kurang.Jika dipersentase, tujuan penjualan kopi di Jatim sebesar 69 persen ke pedagang pengepul, 27 persen ke pedagang lokal, dan 4 persen langsung ke pabrik kopi. Dengan petani bisa tergabung di gapoktan, maka dapat melaksanakan pemasaran secara bersama baik dalam betuk kopi olahan maupun yang lainnya. Jika hal itu dapat dilakukan, petani kopi nantinya juga akan memiliki nilai tawar harga terhadap kebutuhan pasar.

Hingga tahun 2009, areal tanaman kopi mati/rusak di Jatim mencapai 5.379 hektare atau 10,5 persen dari sekitar 26 ribu hektare lahan kopi yang ada. Areal tanaman kopi yang menghasilkan sebagian besar umurnya sudah cukup tua kurang lebih 25 tahun. Umumnya, tanaman kopi di Jatim masih banyak dijumpai tanaman lancuran, bukan klon unggul, populasi tanaman tidak penuh, kebun kurang terpelihara dengan baik, pemangkasan belum semua baik, pemupukan sangat kurang, dan sanitasi kebun kurang bersih. Sehingga rehabilitasi menjadi solusi yang dapat dilakukan untuk memperbaiki lahan dan kualitas serta kuantitas hasil produksi.

Author By : Admin - Jawa Timur Ekspor Kopi 70 Ribu Ton per Tahun - 25 May 2011