Image

Metode Pembuatan Pestisida Nabati

22 Nov 2021  |   Artikel   |  

Keamanan pangan menjadi isu penting pada saat ini. Untuk itu penting bagi stakeholder yang bergerak di bidang pertanian untuk melakukan budidaya pertanian yang aman bagi manusia maupun lingkungan sekitarnya. Penggunaan pestisida kimia memiliki dampak negatif yaitu pencemaran lingkungan, menyebabkan resistensi dan resurgensi hama, serta dapat mengakibatkan residu pada produk pertanian tertentu. Untuk itu perlu menggunakan pestisida nabati yang memiliki berbagai kelebihan diantaranya 1) Mempunyai cara kerja (mode of action) yang tidak meracuni bagi manusia, 2) Mudah terurai di alam sehingga tidak mencemari lingkungan, 3) Mudah diperoleh di alam, 4) Cara pembuatannya relatif mudah.

Melani, D. (2020) mengatakan ada tiga metode pembuatan pestisida nabati yaitu :

A. Ekstraksi
Ekstraksi merupakan proses pemisahan bahan dari campurannya dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Proses ekstraksi dihentikan ketika tercapai kesetimbangan antara konsentrasi senyawa dalam pelarut dengan konsentrasi dalam sel tanaman. Setelah proses ekstraksi, pelarut dipisahkan dari sampel dengan penyaringan. Proses ekstraksi khususnya untuk bahan yang berasal dari tumbuhan adalah sebagai berikut :
1. Pengelompokan bagian tumbuhan (daun, bunga, dll), pengeringan dan penggilingan bagian tumbuhan.
2. Pemilihan pelarut
3. Pelarut polar: air, etanol, metanol, dan sebagainya.
4. Pelarut semipolar: etil asetat, diklorometan, dan sebagainya.
5. Pelarut nonpolar: n-heksan, petroleum eter, kloroform, dan sebagainya.

Menurut Mukhriani (2014) Jenis-jenis metode ekstraksi yang dapat digunakan adalah sebagai berikut :

1. Maserasi
merupakan metode sederhana yang paling banyak digunakan. Cara ini sesuai, baik untuk skala kecil maupun skala industri.(Agoes,2007). Metode ini dilakukan dengan memasukkan serbuk tanaman dan pelarut yang sesuai ke dalam wadah inert yang tertutup rapat pada suhu kamar. Proses ekstraksi dihentikan ketika tercapai kesetimbangan antara konsentrasi senyawa dalam pelarut dengan konsentrasi dalam sel tanaman. Setelah proses ekstraksi, pelarut dipisahkan dari sampel dengan penyaringan. Kerugian utama dari metode maserasi ini adalah memakan banyak waktu, pelarut yang digunakan cukup banyak, dan besar kemungkinan beberapa senyawa hilang. Selain itu, beberapa senyawa mungkin saja sulit diekstraksi pada suhu kamar. Namun di sisi lain, metode maserasi dapat menghindari rusaknya senyawa-senyawa yang bersifat termolabil.

2.   Ultrasound - Assisted Solvent Extraction
Merupakan metode maserasi yang dimodifikasi dengan menggunakan bantuan ultrasound (sinyal dengan frekuensi tinggi, 20 kHz). Wadah yang berisi serbuk sampel ditempatkan dalam wadah ultrasonic dan ultrasound. Hal ini dilakukan untuk memberikan tekanan mekanik pada sel hingga menghasilkan rongga pada sampel. Kerusakan sel dapat menyebabkan peningkatan kelarutan senyawa dalam pelarut dan meningkatkan hasil ekstraksi.

3. Perkolasi
Pada metode perkolasi, serbuk sampel dibasahi secara perlahan dalam sebuah perkolator (wadah silinder yang dilengkapi dengan kran pada bagian bawahnya). Pelarut ditambahkan pada bagian atas serbuk sampel dan dibiarkan menetes perlahan pada bagian bawah. Kelebihan dari metode ini adalah sampel senantiasa dialiri oleh pelarut baru. Sedangkan kerugiannya adalah jika sampel dalam perkolator tidak homogen maka pelarut akan sulit menjangkau seluruh area. Selain itu, metode ini juga membutuhkan banyak pelarut dan memakan banyak waktu.

4.   Soxhlet
  Metode ini dilakukan dengan menempatkan serbuk sampel dalam sarung selulosa (dapat digunakan kertas saring) dalam klonsong yang ditempatkan di atas labu dan di bawah kondensor. Pelarut yang sesuai dimasukkan ke dalam labu dan suhu penangas diatur di bawah suhu reflux. Keuntungan dari metode ini adalah proses ektraksi yang kontinyu, sampel terekstraksi oleh pelarut murni hasil kondensasi sehingga tidak membutuhkan banyak pelarut dan tidak memakan banyak waktu. Kerugiannya adalah senyawa yang bersifat termolabil dapat terdegradasi karena ekstrak yang diperoleh terus-menerus berada pada titik didih.

5.   Reflux dan Destilasi Uap
  Pada metode reflux, sampel dimasukkan bersama pelarut ke dalam labu yang dihubungkan dengan kondensor. Pelarut dipanaskan hingga mencapai titik didih. Uap terkondensasi dan kembali ke dalam labu. Destilasi uap memiliki proses yang sama dan biasanya digunakan untuk mengekstraksi minyak esensial (campuran berbagai senyawa menguap). Selama pemanasan, uap terkondensasi dan destilat (terpisah sebagai 2 bagian yang tidak saling bercampur) ditampung dalam wadah yang terhubung dengan kondensor. Kerugian dari kedua metode ini adalah senyawa yang bersifat termolabil dapat terdegradasi (Seidel V, 2006 dalam Mukhriani, 2014).

B. Destilasi
Distilasi adalah suatu metode pemisahan campuran yang didasarkan pada perbedaan tingkat volalitas ( kemudahan suatu zat untuk menguap ) pada suhu dan tekanan tertentu. Distilasi merupakan proses fisika dan tidak terjadi adanya reaksi kimia selama proses berlangsung. Dasar utama pemisahan dengan cara distilasi adalah perbedaan titik didih cairan pada tekanan tertentu. Proses distilasi biasanya melibatkan suatu penguapan campuran dan diikuti dengan proses pendinginan dan pengembunan. Ada 3 jenis distilasi yaitu (1) distilasi dengan air/ hydrodistillatiom, (2) distilasi dengan air dan uap/hydro and steam distillation, (3) distilasi dengan uap langsung /steam distillation. Proses dalam distilasi biasanya menghasilkan minyak atsiri yang memiliki sifat mudah menguap pada suhu kamar, memiliki rasa getir, berbau wangi dan umumnya larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air.

C. Pirolisis
Pirolisis adalah proses dekomposisi kimia bahan organik melalui proses pemanasan tanpa atau sedikit oksigen dimana material mentah akan mengalami pemecahan struktur kimia menjadi fase gas. Gas ini akhirnya akan terkondendasi /mengembun. Hasil akhir dari metode ini adalah terbentuknya asap cair. Asap cair merupakan hasil kondensasi/ pengembunan dari uap hasil pembakaran bahan-bahan yang mengandung senyawa C bahan-bahan yang banyak mengandung lignin, selulosa, hemiselulosa serta senyawa karbon lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Melani, D., 2020, Bahan Ajar Teknik Pembuatan Pestisida Organik, Balai Besar Pelatihan Pertanian Ketindan, Malang
Mukhriani, 2014, Ekstraksi, Pemisahan Senyawa, Dan Identifikasi Senyawa Aktif, Jurnal Kesehatan, Volume VII No 2, https://media.neliti.com/media/publications/137566-ID-ekstraksi-pemisahan-senyawa-dan-identifi.pdf, diakses pada tanggal 2 November 2021










Author By : Hanik Sulistyawati, SP. (POPT Muda) - Metode Pembuatan Pestisida Nabati - 22 Nov 2021