Image

Metode Pengamatan Organisme Pengganggu Tumbuhan Kwangwung Pada Tanaman Kelapa

18 Jul 2021  |   Artikel   |  

Budidaya tanaman tentunya tidak terlepas dengan yang namanya Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Untuk itu, upaya perlindungan tanaman merupakan suatu hal yang penting karena akan menjadi jaminan bagi terkendalinya OPT baik hama, penyakit maupun gulma. Dalam UU No 22 Tahun 2019 tentang Sistem Budidaya Pertanian Berkelanjutan mengamanatkan bahwa pengendalian OPT dilaksanakan dengan cara Pengendalian Hama Terpadu (PHT). PHT merupakan cara pengelolaan OPT yang memperhatikan faktor teknis, ekonomis, ekologis dan juga sosiologis.
Paradigma baru penerapan PHT dalam pengelolaan OPT diarahkan kepada cara yang ramah lingkungan dan aman terhadap manusia, sehingga dapat memenuhi tuntutan dalam komoditas ekpor diantaranya mutu, bebas residu pestisida dan kontinuitas produk sehingga mampu bersaing dengan produsen lainnya. Penerapan PHT ini tentunya tetap dengan memegang prinsip PHT yaitu (1) budidaya tanaman sehat, (2) pemanfaatan musuh alami, (3) pengamatan rutin atau pemantauan, (4) petani sebagai manajer/ahli PHT (Prabaningrum, L., dkk, 2015)
Pengamatan sendiri merupakan kegiatan yang penting dalam mendasar dalam pengambilan keputusan. Dengan pengamatan dapat diketahui sejak dini kondisi situasi OPT, faktor-gaktor yang mempengaruhi perkembangan OPT, situasi musuh alami dan lain sebagainya sehingga ledakan /eksplosi OPT dapat dicegah. Sehingga diharapkan petani pemilik kebunlah yang harus rutin melakukan pengamatan di kebunnya masing-masing.
Adapun metode pengamatan yang dapat dilakukan untuk mengamati Oryctes rhinoceros pada tanaman kelapa adalah sebagai berikut :

  • Dari tiap pohon contoh diamati persentase pelepah terserang dengan cara membagi jumlah pelepah daun terserang dengan jumlah pelepah daun yang diamati diatas batas Horisontal x 100 %
  • Dihitung persentase pohon terserang sekitar pohon contoh dengan cara menghitung jumlah pohon terserang dibagi jumlah pohon yang diamati x 100%
  • Ciri pohon terserang adalah terdapat guntingan membentuk huruf pada daun yang sudah membuka.
  • Dihitung pula jumlah telur, larva, pupa dan imago yang ditemukan pada sarang-sarang aktif seluas 0,5 x 0,5m sedalam 0,5m.
  • Sarang aktif terdapat pada : pupuk kandang, tumpukan jerami, bekas gergajian, ampas tebu dan bahanorganiklainnya.
  • Siklus pengamatan 63 hari.
  • Hasil pengamatan dicatat dalam blangko pengamatan
  • Ambang toleransi 20 % tajuk terserang dengan 20 % tanaman sekitar pohon contoh terserang.
  • Untuk menghitung kerugian hasil akibat serangan Oryctes rhinoceros dapat dilakukan dengan mengitung jumlah guntingan dibagi jumlah pelepah yang diamati, kemudian lihat tabel berikut :

DAFTAR PUSTAKA

Prabaningrum, L., dkk, 2015, Empat Prinsip Dasar dalam Penerapan Pengendlaian Hama Terpadu (PHT), https://balitsa.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/berita-terbaru/378-empat-prinsip-dasar-dalam-penerapan-pengendalian-hama-terpadu-pht.html, diakses pada tanggal 6 Juni 2021 

 



Author By : Hanik Sulistyawati, SP (NIP. 19780103 201101 2 004) - Metode Pengamatan Organisme Pengganggu Tumbuhan Kwangwung Pada Tanaman Kelapa - 18 Jul 2021