Image

Peranan Teknologi Alley Cropping dalam Mendukung Konservasi Lahan

21 Oct 2021  |   Artikel   |  

Lahan merupakan bagian bentang alam (landscape) yang mencakup pengertian dari fisik termasuk iklim, topografi (relief), hidrologi dan keadaan vegetasi alami (natural vegetation) yang semuanya secara potensial berpengaruh terhadap penggunaan lahan (Djaenudin, 1997). Kemampuan penggunaan lahan merupakan kesanggupan lahan untuk memberikan hasil penggunaan pertanian pada tingkat produksi tertentu. (FAO, 1976 ; Sanchez, 1993). Lahan kering adalah ekosistem yang tidak pernah tergenang atau digenangi air pada sebagian besar waktu dalam setahun atau sepanjang waktu, dan berada pada wilayah   dengan   total   hujan   kurang   dari   2.000 mm/t tahun, dan rata rata bulan basah hanya 3 - 5 bulan. Permasalahan dalam pengelolaan lahan kering sangat bervariasi dari satu wilayah ke wilayah lainnya, baik permasalahan teknis maupun sosial ekonomis. Permasalahan tersebut antara lain: (a) miskin kadar hara dan bahan organik, (b) dominan tingkat pH rendah, (c) lahan berlereng, sehingga rentan terhadap erosi, (d) kekurangan air, dan (e) lahan garapan sempit, kurang dari 0,5 ha/keluarga (Abdurachman 2008; Juarsah 2015).

Tingkat erosi tanah pada lahan pertanian berlereng antara 3-15% di Indonesia tergolong tinggi, yaitu berkisar antara 97,5- 423,6 t/ha/tahun. Padahal, banyak lahan pertanian yang berlereng lebih dari 15% bahkan lebih dari 100%, sehingga laju erosi dipastikan sangat tinggi. Hal ini terjadi terutama karena curah hujan yang tinggi dan kelalaian pengguna lahan dalam menerapkan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air (Abdurachman 2008). Beberapa teknik konservasi tanah dan air telah dilakukan untuk mengendalikan erosi pada lahan kering adalah konservasi vegetatif dengan sistem pertanaman lorong (alley cropping). Alley cropping adalah sistem agroforestri dengan menanam tanaman lorong yang ditanam menurut kontur dan menanam tanaman di antara (dalam) lorong. Prinsip sistem ini adalah untuk meminimalkan erosi dengan memerangkap endapan melalui perakaran tanaman lorong dan mengurangi kecepatan aliran air permukaan.

Sistem pertanaman lorong (alley cropping) adalah alternatif teknik konservasi lainnya untuk lahan kering di DAS terutama pada bagian hulu karena efektif mengendalikan erosi (Haryati et al. 1993a, 1995; Haryati 2000, Wei et al. 2007, Wang et al. 2010).

Pertanaman lorong (alley cropping) sangat efektif dalam mengurangi limpasan permukaan dan erosi. Sistem alley cropping dapat memperbaiki sifat fisik tanah yaitu menurunkan BD (bulk density) dan meningkatkan konduktivitas hidraulik tanah. Sistem alley cropping juga dapat meningkatkan kesuburan tanah melalui aktifitas fauna dalam tanah misalnya aktifitas cacing tanah (Casting). Casting merupakan kotoran cacing yang dapat berguna untuk pupuk. Casting ini mengandung partikel-partikel kecil dari bahan organik yang dimakan cacing dan kemudian dikeluarkan lagi yang berguna dalam hal meningkatkan kesuburan tanah (Brata 2017).

Sistem alley cropping selain dapat menurunkan erosi dan run off juga dapat mengendalikan kehilangan hara baik melalui erosi maupun runoff diantaranya ditunjukkan hasil penelitian Wang et al. (2010) (Tabel 8 dan Gambar 2). Penurunan kehilangan hara bukan disebabkan oleh perubahan konsentrasi hara di dalam air runoff melainkan tergantung besarnya volume runoff (Owino et al. 2006). Hasil penelitian Nair (2012) pada skala global, sistem multi strata dan inter cropping dengan pepohonan (alley cropping) akan terus memberikan keuntungan mitigasi perubahan iklim, pengelolaan lahan dalam skala luas, manfaat pohon-pohonan di lahan kering, dan pembangunan areal penyangga secara vegetatif dengan pohon kayu-kayuan.

Mitigasi perubahan iklim dengan agroforestry pohon buah-buahan rendah, dapat mendorong penelitian jangka panjang yang memberikan fasilitas panen secara periodik yang berkelanjutan (Nair 2012). Sistem alley cropping menghasilkan biomass yang selanjutnya dapat meningkatkan cadangan karbon dalam tanah (C-sequestration). Hal ini akan mengurangi pelepasan CO2 ke atmosfer sehingga peningkatan suhu udara/pemanasan global (global warming) berkurang. Menurut Agus et al. (2016) sistem alley copping merupakan salah satu sistem agroforestry yang dapat meningkatkan kualitas tanah, mengurangi air limpasan permukaan. Selanjutnya sistem perakaran dari hedgerow yang dalam dan hasil pangkasannya menjadi sumber bahan organik yang memperbaiki struktur tanah. Agus et al. (2016) juga menyatakan bahwa semua hal tersebut berkontribusi terhadap peningkatan cadangan karbon dalam tanah (C-sequestration) yang pada gilirannya mendukung aksi mitigasi perubahan iklim. Dengan penerapan system alley cropping diharapkan dapat mendukung konservasi lahan dan air.

Author By : Irma Kisworini, SP. - Peranan Teknologi Alley Cropping dalam Mendukung Konservasi Lahan - 21 Oct 2021