Image

SlNPV (Spodoptera Litura Nuclear Polyhedral Virus)

03 Dec 2021  |   Artikel   |   28 views

SlNPV (Spodoptera Litura Nuclear Polyhedral Virus) merupakan virus entomopatogen atau patogen serangga yang sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi bioinsektisida karena dinilai sangat efektif dan spesifik inang dan ramah lingkungan. SlNPV spesifik dalam mengendalikan hama tanaman, karena hanya dapat menginfeksi pada hama jenis Spodoptera litura.

Spodotera litura atau yang biasa disebut dengan ulat grayak adalah hama penting pada tanaman kedelai yang bersifat polyfag atau memakan banyak jenis makanan. Tanaman inang ulat grayak selain kedelai adalah kacang tanah, kacang hijau, tembakau, cabai, ubi jalar, buncis, kacang Panjang, bayam dan talas. Kerusakan akibat serangan ulat grayak dapat mengganggu proses asimilasi hingga menyebabkan kehilangan hasil panen mencapai 85%, bahkan juga dapat menyebabkan gagal panen atau puso (Bedjo, 2015). Pengendalian hama ulat grayak dapat dilakukan dengan pemanfaatan agens hayati salah satunya adalah dengan menggunakan SlNPV (Spodoptera Litura Nuclear Polyhedral Virus). Dari berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa SlNPV berpotensi dalam mengendalikan hama ulat grayak.

Gejala serangan SlNPV pada ulat grayak adalah SlNPV akan memperbanyak diri pada inti sel inangnya (serangga) dengan mekanisme harus tertelan dengan mulut melalui pakan, kemudian ke pencernaan, kemudian gejala akan terlihat setelah 1-3 hari. Pada ulat stadia 1 yang tertular, akan terlihat ulat mulai malas makan,gerakan tubuh yang melambat, tubuh membengkak, ruas ulat menjadi lebih lunak dan rapuh serta mudah robek. kemudian warna tubuh ulat berganti menjadi putih susu (gejala ini hanya terlihat melalui mikroskop). Pada stadia 3 dan 4 warna tubuh ulat berubah menjadi putih kecoklatan pada perutnya (bagian bawah), sedangkan pada bagian punggung berarna coklat susu kehitaman. Pada ulat stadia 5 dan 6 terinfeksi SlNPV, maka pada tahap kepompong akan membusuk. Gejala ulat terserang SlNPV di lapangan terlihat dengan gejala tubuh larva menggantung dengan kedua kaki semu bagian abdomen menempel pada daun atau ranting tanaman membentuk huruf "V" terbalik, namun ada juga yang ulat mati dengan gejala tidak seperti huruf ā€œVā€ terbalik, melainkan terkulai pada helaian daun. Kematian ulat terjadi pada 3-7 hari setelah tertular SlNPV.

SlNPV mempunyai potensi yang besar untuk dijadikan sebagai agens hayati pengendali hama Spodoptera litura (ulat grayak), dengan takaran 1,5 x 1011 PIBs/ha atau setara dengan 500 g/ha, kematian S. litura setelah aplikasi SlNPV-JTM 97C mencapai 80āˆ’100%. Virus pada umumnya dapat mengendalikan secara spesifik sampai tingkat genus saja, namun SlNPV selain mengendalikan ulat grayak ternyata dapat mengendalikan hama sampai ke tingkat ordo lepidoptera, antara lain ulat penggulung daun, ulat jengkal, penggerek polong, perusak polong kedelai, perusak polong pada tanaman kacang hijau dan ulat kubis.
Pengendalian dengan menggunakan agens hayati SlNPV memiliki beberapa keuntungan antara lain : (1) Memiliki inang spesifik, (2) Tidak membahayakan organisme bukan sasaran dan lingkungan, (3) Dapa mengatasi masalah resistensi ulat grayak terhadap insektisida, (4) Kompatibel dengan komponen pengendalian lainnya (Arifin, 2012).

SlNPV mempunyai potensi yang besar untuk dijadikan sebagai agens hayati pengendali hama SlNPV. Namun terkadang daya bunuhnya (Virulensi) yang agak lemah juga dapat menjadi kendala dalam proses pengendalian hama. Ada empat cara untuk mempercepat daya bunuh, yaitu (1) Mengaplikasikan SlNPV saat ulat/ hama masih muda, (2) Menggunakan strain SlNPV yang lebih virulen, (3) Mengkombinasikan SlNPV dengan insektisida biologis atau kimia, (4) Mengembangkan SlNPV rekombinan dengan cara menyisipkan gen spesifik yang bersifat racun kedalam genom SlNPV.
Penggunaan SlNPV sebagai agens hayati pengendali hama ulat grayak memiliki beberapa kendala antara lain adalah sifat SlNPV yang peka terhadap sinar matahari sehingga untuk mengaplikasikannya dilapang harus benar-benar diperhatikan waktu (diutamakan setelah aplikasi tidak terkena sinar matahari secara langsung) dan harus menjaga kondisi lapang agar selalu lembab dan tidak kering, sehingga aplikasi SlNPV dapat memberikan manfaat yang optimal dalam mengendalikan hama ulat grayak.


Daftar Pustaka

Arifin Muhammad. 2012. Bioinsektisida SlNPV Untuk Mengendalikan Ulat Grayak Mendukung Swasembada Kedelai. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Bogor. Pengembangan Inovasi Pertanian 5 (1), 2012 : 19-31.
Bedjo. 2015.Pengendalian Larva Ulat Grayak (Spodoptera litura) dengan Virus SlNPV. https://balitkabi.litbang.pertanian.go.id/infotek/pengendalian-larva-ulat-grayak-spodoptera-litura-d.... Diakses pada tanggal 2 Desember 2021.


Author By : Lina Nur Laila, SP. - SlNPV (Spodoptera Litura Nuclear Polyhedral Virus) - 03 Dec 2021